Pertumbuhan Industri TPT Melambat

Kamis, 27 September 2012 | 08:58


Pertumbuhan industri tekstil dan produk tekstil (TPT) diperkirakan melambat pada tahun ini.Perlambatan pertumbuhan itu disebabkan oleh faktor eksternal dan juga internal. “Kinerja ekspor turun akibat lemahnya perekonomian di wilayah Eropa.Permintaan TPT dunia menurun hingga 11% pada tahun ini.Tapi,industri kita tidak hanya dipengaruhi faktor eksternal, internal juga,” kata Direktur Industri Tekstil dan Aneka Ditjen Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Ramon Bangun di Jakarta kemarin. Menurut dia,di dalam negeri, adanya Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No 253/2011 tentang Fasilitas Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE) berdampak negatif terhadap pertumbuhan industri TPT.

Menurutnya,peraturan itu justru menyulitkan pelaku industri dalam melakukan ekspor. Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat Usman menjelaskan, terkait PMK No 253/2011 itu, pihaknya mendesak restitusi pada perusahaan yang memperoleh fasilitas kemudahan impor tujuan ekspor (KITE) dipercepat. “Ekspor turun lebih banyak karena itu.Kami harus bayar pajak di muka dan pabrik kesulitan.

Meskipun ada restitusi, tapi pengembaliannya tidak bisa cepat,”paparnya. Menurut dia, hal itu bisa saja menyebabkan terjadinya pengurangan karyawan di sektor tekstil.Ade memperkirakan, ada sekitar 60.000 tenaga kerja telah diberhentikan oleh 600 perusahaan yang memperoleh fasilitas KITE. Dia menilai,persyaratan untuk restitusi tersebut masih terlalu tinggi.Untuk itu,Ade berharap pemerintah jangan lagi mengeluarkan kebijakan yang merugikan dunia usaha agar tidak merusak rencana pengembangan industri.

“Pajak pertambahan nilai (PPN) tidak bisa ditangguhkan, dan harus dibayar terlebih dahulu. Proses restitusi tidak berjalan dengan semestinya. Hanya ada satu dari 1.000 perusahaan yang bisa restitusi. Proses tersebut tidak berada di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai,melainkan di Direktorat Jenderal Pajak,”jelasnya. Sebelumnya,Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan, pihaknya terus berupaya untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Beberapa waktu lalu, Kemenperin telah melakukan dialog antara pemerintah dengan pengusaha garmen yang menjadi eksportir.Namun,persoalan itu masih belum mencapai solusi yang efektif. Lebih lanjut, Ramon mengatakan bahwa rencana kenaikan tarif listrik juga bakal berdampak terhadap pertumbuhan industri TPT. Dia berharap, kenaikan itu bisa ditunda hingga setidaknya sampai kondisi di Eropa dan permintaan dunia pulih. ● sandra karina             

sumber http://www.seputar-indonesia.com