Tetap bertahan di saat industri CPO meredup

Rabu, 26 September 2012 | 14:00


Produsen minyak sawit mentah menghadapi tantangan berat di tahun ini. Harga jual rata-rata crude palm oil (CPO) terus menurun, dipicu melorotnya permintaan global. Di sisi lain, biaya ekspansi justru meningkat dari tahun sebelumnya.PT BW Plantation Tbk ikut terkena imbas meredupnya prospek industri CPO. Di 2012, emiten bersandi saham BWPT itu, hanya menargetkan penanaman lahan sawit baru seluas 4.000 ha. Jumlah itu lebih rendah dari penanaman baru perseroan yang biasanya 10.000 ha per tahun.
Kondisi itu disebabkan melonjaknya biaya penanaman baru.

Dalam kondisi normal, BWPT mengucurkan investasi Rp 50 juta per ha untuk penanaman baru. Di tahun ini, ongkos penanaman baru naik menjadi Rp 60 juta per ha karena kenaikan biaya lahan (land cost).

Namun analis menilai slowdown proyek penanaman baru tak akan mengurangi tenaga BWPT di tahun ini. Analis Danareksa Sekuritas, Gabriella Maureen Natasha, menilai profil tanaman BWPT masih cukup mumpuni untuk mengikis perlambatan proyek penanaman baru sawit.

Sebagian besar tanaman inti BWPT masih berstatus belum menghasilkan (immature). Di 2011, misalnya, tanaman belum menghasilkan BWPT sebanyak 34.915 ha, setara 65,24% total area tertanam inti seluas 53.521 ha. Sedangkan luas tanaman menghasilkan di akhir tahun lalu tercatat 18.606 ha atau 34,76% dari total lahan inti BWPT. Ini menyajikan ruang besar bagi BWPT untuk tetap mengerek produksi.

"Kalaupun berdampak, slowdown penanaman di tahun ini baru akan terjadi sekitar 3-4 tahun mendatang," kata Gabriella, Selasa (25/9).

Masih minimnya tanaman mature BWPT dinilai bakal memberi tenaga tambahan untuk meningkatkan produksi. Di tahun ini, tanaman inti yang mature akan bertambah 47% year-on-year (yoy) menjadi 27.368 ton.

Analis AAA Securites, Andy Wibowo Gunawan, memprediksi, BWPT bisa memproduksi 584.572 ton tandan buah segar (TBS), meningkat 28% dari tahun lalu. Sementara produksi CPO ditaksir tumbuh 20,32% menjadi 133.282 ton. "Pertumbuhan produksi membuat penjualan CPO BWPT naik paling tinggi dibandingkan emiten CPO lain," jelas Andy. Harga jual CPO BWPT diprediksi naik 8,04% menjadi Rp 8.046 per kg.

Namun, BWPT tetap menghadapi tantangan terutama dari sisi rasio keuangan. Baru-baru ini, BWPT sudah mencairkan pinjaman Rp 600 miliar dari Bank BNI. Jumlah itu setara 75% dari total fasilitas pinjaman Rp 800 miliar. Pinjaman itu memang dipakai untuk kegiatan produktif seperti penanaman baru pembangunan pabrik kelapa sawit berkapasitas 60 ton per jam.

Menurut Gabriella, sisi positif itu harus terkompensasi oleh naiknya rasio utang terhadap modal (gearing ratio) BWPT menjadi 177% di tahun ini. Bandingkan dengan gearing ratio di tahun lalu yang masih 46%.

BWPT juga diperkirakan harus menanggung kenaikan biaya produksi, terutama bahan baku dan pupuk, sekitar 7%-8% di tahun ini. "Konstruksi pabrik baru BWPT juga mundur hingga kenaikan produksi sedikit tertahan meski tak signifikan," ujar Gabriella.

Tiga analis merekomendasikan buy untuk BWPT. Andy menetapkan target Rp 1.650 per saham, mencerminkan price-to-earning ratio (PER) 18,3 kali. Gabriella memasang target Rp 1.960 per saham, yang mencerminkan PER 16,9 kali. Adapun Suraj Khiani, analis Ciptadana Securities, menetapkan target Rp 1.720 per saham yang mencerminkan PER 12,8 kali.

Oleh Veri Nurhansyah Tragistina -
sumber http://investasi.kontan.co.id