Relawan Temukan Tumpukan Kayu Olahan di Padang

Senin, 17 September 2012 | 10:48


Sebanyak 72 relawan yang tergabung dan tim gabungan antisipasi banjir bandang susulan Kota Padang, Minggu (16/9) kemarin merasa kebingungan akibat lemahnya koordinasi dan perintah yang dikeluarkan.Banyak relawan duduk-duduk di tepi sungai menanti perintah dari koordinator. Akibatnya target yang ingin dicapai dalam hari pertama tidak sesuai rencana. Para relawan juga terpaksa turun kembali ke posko di Batu Busuk pada Minggu, pukul 16.00 WIB.

Relawan yang dibagi menjadi tiga tim mulai berangkat ke lokasi pada pukul 11.30 WIB setelah dilepas oleh kepala BPBD Sumbar, Yazid Fadhli yang terdiri dari Basarnas, BPBD Sumbar, BPBD Kota Padang, KSB, dan TNI AD.

Selain koordinasi yang kurang maksimal, para relawan menemukan titik titik illegal logging dan sekaligus memotong kayu tersebut. Terlihat kayu gelondongan berserakan bersama serbuk-serbuk kayu bekas disinsaw. Papan-papan siap jadi juga tersusun rapi di tengah sungai.

Salah satu anggota Sekber PA Sumbar, Hanafi mengatakan, dua hari yang lalu para anggota Sekber PA Sumbar melakukan survei ke bukit dan melewati PLTA Patamuan. Mereka mendapati di sekitar PLTA masih banyak kayu besar-besar yang terletak di tengah sungai dan tidak ada serbuk-serbuk kayu tersebut.

“Dua hari yang lalu kami tidak menemukan serbuk kayu dan papan ini. Sepertinya pemotongan kayu ini dilaksanakan Jumat (14/9) dan tentunya ilegal karena tidak ada komando dari pemerintah. Orang-orang yang memotong kayu ini menjadi papan kemungkinan para pelaku pembalakan liar di bukit-bukit belakang Kampus Universitas Andalas ini,” papar Hanafi.

Terkait dengan lemahnya koordinasi, salah satu relawan yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan, jadwal yang telah direncanakan tidak sesuai dengan pelaksanaannya. Mulai dari upacara pelepasan yang terlambat hingga satu setengah jam dan logistik yang seadanya untuk para relawan yang akan menjalankan misi berat ini.

“Awal dari pelepasan saja sudah kacau. Ditambah lagi perintah yang terus bertukar-tukar setiap menit. Kami bingung harus mau apa. Apalagi logistik yang diberikan untuk kami hanya satu kotak nasi kaleng,” tutur sembari mengerutu kepada Haluan yang juga tergabung dalam tim relawan, Minggu (16/9).

Akibat lemahnya koordinasi tersebut, para relawan hanya mampu menjangkau dua titik tumpukan kayu dan harus kembali lagi ke posko utama di Batu Busuk pukul 16.00 WIB yaitu di tempat lokasi longsor yang menewaskan empat orang dan PLTA di Patamuan.

Pendeknya jarak tempuh para relawan tidak sesuai dengan target yang direncanakan sebelumnya. Salah satu warga Batu Busuk yang bertemu dengan Haluan di PLTA Patamuan, Utih (42) mengatakan, jarak Batu Busuk dengan PLTA Patamuan hanya dua kilometer. Sedangkan jika ingin pergi ke mata air atau Danau Kariang huku Batang Kuranji harus menempuh sekitar 6 kilometer lagi.

“Dari PLTA ke Danau Kariang ada sekitar 6 kilometer lagi dengan waktu tempuh sekitar 4 jam karena harus melalui medan yang berat,” tutur Utih.

Sementara itu, Kepala Pusdalops BP Sumbar, Ade Edward mengakui pada hari pertama memang banyak terjadi kekurangan dalam pelaksanaan pembersihan hulu Batang Kuranji, karena persiapan hanya dilakukan dalam satu malam.

“Malam ini, Minggu (16/7-red) kita evaluasi segala kekurangan dan membahas apa rencana untuk besok. Jadi apa yang kurang akan dilengkapi,” katanya.

Di samping itu, beberapa daerah tetangga juga akan datang pada hari ini, Senin (17/9) untuk membantu kegiatan tim relawan yang telah bekerja pada hari pertama.

“BPBD Kota Bukittinggi, Pariaman, Kota Solok dan Kabupaten Padang Pariaman akan datang pada hari ini (Senin) untuk membantu kita membersihkan hulu sungai Batang Kuranji,” papar Ade Edward.

PLTA Patamuan yang menjadi muara dari sungai Padang Janiah dan Sungai Padang Karuah rusak akibat hempasan banjir bandang yang terjadi pada Rabu (12/9) lalu. Bahkan danau buatan yang telah dibuat oleh PT Semen Padang untuk membangkit PLTA tersebut telah tertutup rata oleh pasir dan tumpukan kayu.

“Sebelum adanya banjir bandang, di PLTA ini ada danau buatan sedalam 25 meter yang digunakan untuk cadangan air. Namun sekarang telah hilang dan rata akibat dipenuhi oleh pasir dan tumpukan kayu,” kata Utih.

Tembok irigasi yang berada di PLTA juga jebol dan rusak sehingga aliran air sungai tidak bisa lagi dikendalikan. Padahal setelah banjir bandang pertama, Dinas PU bersama Semen Padang sedang melakukan perbaikan irigasi yang rusak pada banjir pandang tempo hari.

“Sekarang sudah rusak lagi dan masyarakat di sepanjang aliran Batang Kuranji dapat dipastikan kekeringan lagi,” katanya.

Sebanyak lebih dari 180 warga Batu Busuk, Kelurahan Lambung Bukit, Kecamatan Pauh mulai memeriksakan kondisi kesehatan mereka. Pasalnya, warga tersebut sudah mulai diserang berbagai penyakit pasca banjir bandang yang terjadi Rabu (12/9) lalu.

Hingga Minggu (16/9), sudah tercatat sebanyak 180 orang warga yang mendatangi posko kesehatan untuk memeriksa penyakit yang mulai menyerang tubuhnya, dan itu terjadi dalam dua hari belakangan ini. Penyakit yang diidap pun beragam, mulai dari batuk, flu, demam, reumatik, dan penyakit kulit.

Berdasarkan data yang tercatat di posko kesehatan Batu Busuak, sebanyak 70 orang warga terkena penyakit batuk kering, 30 orang menderita kedinginan, 25 warga terkena flu, dan selebihnya ada yang menderita reumatik, sisanya menderita penyakit kulit seperti gatal-gatal dan kudis. “Lima hari ke depan kita memperkirakan akan banyak masyarakat yang akan terkena sakit perut dan mencret akibat mengkonsumsi air sungai. Air sungai itu belum sepenuhnya bersih,” ucap Jon Harfit, Kepala Tim Medis Rumah Sakit Semen Padang.

Untuk mengantisipasi penyakit yang dikeluhkan warga tersebut, Posko Kesehatan yang ada di lokasi sudah menyediakan berbagai macam obat yang nantinya akan dibutuhkan warga pasca banjir. Seperti obat demam, obat flu, obat batuk, obat reumatik, bahkan tim medis pun lebih banyak menyediakan, obat batuk sirup anak, ketimbang obat yang lain.

“Karena yang cenderung cepat terkena penyakit adalah anak-anak, makanya kita agak banyak mempersiapkan obat-obatan untuk anak-anak,” jelas Jon. [ton]

sumber http://sindikasi.inilah.com