LABELISASI HALAL Tuntut Kesepahaman untuk Tak hambat Eskpor-impor

Rabu, 12 September 2012 | 10:30


Indonesia perlu menjalin kesepahaman terkait labelisasi produk halal, sehingga tidak menghambat kegiatan ekspor-impor ke sejumlah negara, termasuk Malaysia. Dato Raja Mohamad Abdullah, CEO OIC International Business Centre, mengatakan perlu ada standar dan pemahaman bersama terkait labelisasi halal  guna memperlancar ekspor dan impor.

"Produk Indonesia tetap bisa diterima Malaysia," katanya di sela-sela jumpa pers konfrensi 3rd Muslim World Biz di Jakarta Selasa (11/9/2012).

Dia mengakui sempat terjadi kesalahpahaman antara kedua negara terkait  labelisasi produk halal.  Oleh karena itu, katanya, perlu upaya duduk bersama di antara keduanya, termasuk melibatkan ulama dari Indonesia dan Malaysia.

"Mungkin ada perbedaan dalam penerbitan halal, sehingga perlu adanya kesepakatan dan standar yang diakui bersama," katanya.
 
Dia mengatakan perlu tercipta mufakat terkait produk dan labelisasi halal tersebut agar tidak mengganggu perdagangan internasional.

Kesepahaman tersebut juga tetap diperlukan ketika Indonesia menjalin kerja sama perdagangan dengan negara lainnya.

Menurut dia, konfrensi Muslim World Biz ke-3 di Indonesia diharapkan bisa  menjadi salah satu cara mengatasi permasalahan itu.

Ketua Kamar Dagang dan Industri DKI Jakarta Eddy Kuntadi mengatakan Kadin menargetkan agar produk halal Indonesia semakin di terima internasional.

"Pemerintah perlu serius dan mengeluarkan kebijakan yang mendukung agar labelisasi halal Indonesia bisa diterima negara lain," katanya.
 
Menurut dia, konfrensi konfrensi 3rd Muslim World Biz bisa menjadi peluang bagi pelaku usaha untuk meningkatkan daya saing di mata internasional.

"Ini merupakan jalan untuk meningkatkan kerja sama antarnegara Islam. Visi kami menjadikan Indonesia sebagai pusat food, fashion, fun, dan fundamental education bagi dunia muslim," katanya.

Acara yang berlangsung pada 12--16 September ini rencananya akan dibuka oleh Wakil Presiden RI Boediono.(sut)

oleh Roberto A. Purba
sumber http://www.bisnis.com