Dukung Diversifikasi Energi, SUCOFINDO Luncurkan Laboratorium Coal Bed Methane (CBM)

Senin, 03 September 2012 | 14:30


Laboratorium Coal Bed Methane (CBM) SUCOFINDO lakukan uji analisa kandungan gas, yang dijadikan alternatif energi masa depan.
Keberhasilan pembangunan Indonesia tidak lepas dari kontribusi sumber daya energinya yang besar, terutama migas dan batubara. Namun, ketersediaan energi tersebut mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Kelangkaan BBM, keterbatasan pasokan listrik di sejumlah daerah, lonjakan harga dan impor BBM adalah permasalahan yang terjadi terkait energi nasional. Kebutuhan energi yang terus meningkat perlu diimbangi dengan upaya mencari energi baru dan terbarukan.

   
Direktur Utama PT SUCOFINDO, Arief Safari menyaksikan kesiapan operasional Mobile Laboratorium CBM
Penempatan SUCOFINDO Mobile Laboratorium di lapangan (on site)
   
Dalam mengatasi masalah energi masa depan, pemerintah Indonesia berupaya mengambil langkah-langkah penting. Dengan dikeluarkannya Perpres No.5 Tahun 2006 mengenai Kebijakan Energi Nasional, pemerintah menargetkan pencapaian bauran energi yang lebih besar pada tahun 2025. Porsi minyak bumi akan diturunkan dari 52% menjadi maksimal 20%. Sedangkan gas bumi akan ditingkatkan menjadi 30%, batubara menjadi 33%, panas bumi (geothermal) dan bio-fuels menjadi 5%, energi baru dan terbarukan menjadi 5%. Adanya kebijakan energi tersebut memotivasi pelaku usaha bersama pemerintah untuk terus mengembangkan energi baru.

Coal Bed Methane (CBM) merupakan salah satu upaya diversifikasi energi yang dikembangkan pemerintah sejak tahun 2008. Kementerian ESDM menyatakan total cadangan CBM di Indonesia berkisar antara 400 hingga 453 Triliun Cubic Feet (TCF) tersebar dalam 11 cekungan di wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. Kondisi itu mendudukkan Indonesia pada posisi ke-6 dunia dalam hal cadangan CBM.

Upaya eksplorasi dan produksi CBM pun terus ditingkatkan. Dari 7 wilayah di tahun 2008, saat ini, pemerintah telah menandatangani 42 kontrak kerjasama (KKS) blok CBM, yaitu 17 di Sumatera dan 25 di Kalimantan dan Jawa. Perkembangan yang pesat tersebut menunjukkan antusiasme yang positif dari para investor dan kontraktor (KSO) CBM di Indonesia. Bahkan kerjasama kontraktor dengan PLN dalam eksplorasi CBM telah menghasilkan energi listrik di wilayah Sanga-sanga, Kalimantan Timur.

“Kami mendukung kebijakan energi nasional yang ditetapkan pemerintah”, kata Arief Safari, Dirut PT SUCOFINDO (Persero) saat melepas 2 (dua) unit Laboratorium Bergerak (Mobile Laboratory) di Cibitung, Bekasi. Selain laboratorium bergerak, ada 2 laboratorium sentral yang mampu melakukan uji analisa keseluruhan (full analysis CBM), yaitu di Balikpapan dan Palembang. Banyak layanan pengujian yang dapat dilakukan sesuai kebutuhan, seperti analisa gas content, gas composition, coal proximate, coal ultimate, maceral composition Vitrinite Reflectance, Noise, Air & Water Quality. Laboratorium tersebut akan membantu industri dan pemerintah dalam efisiensi waktu dan biaya penanganan serta pengujian sehingga sampel gas tidak perlu lagi dikirim keluar negeri. “Di Indonesia saja bisa dilakukan, tidak perlu ke luar negeri”, ujarnya menegaskan.

Krisis energi menjadi tanggung jawab dan tantangan kita bersama sebagai bangsa. Negara dituntut mengelola kekayaan sumber daya energi dan digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat Indonesia. Namun, kita, selaku pengguna, juga dituntut untuk memanfaatkan energi secara efisien serta ikut mendukung pengembangan energi baru yang dilakukan pemerintah. Dengan demikian, krisis energi diharapkan dapat teratasi dan tongkat estafet pembangunan dapat dilanjutkan ke generasi penerus. (oth)