SUCOFINDO Siap Hadapi Persaingan Pasar Tunggal ASEAN

Rabu, 29 Agustus 2012 | 18:19


Total pendapatan Sucofindo sampai dengan semester pertama tahun 2012 mencapai Rp 676,3 milyar. Dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu dimana tercapai Rp 559,5 milyar, pendapatan tahun ini meningkat 20,9%. Sekitar 80% dari pendapatan semester ini diperoleh dari jasa inspeksi dan jasa terkait lain, selebihnya berasal dari jasa sertifikasi dan pengujian. Hingga akhir tahun ini, total pendapatan ditargetkan mencapai Rp 1,78 triliun. Adapun realisasi total pendapatan tahun lalu sebesar Rp 1,38 trilyun. Angka total pendapatan itu di luar konsolidasi dengan anak-anak perusahaan.

Laba setelah pajak semester pertama tahun ini adalah sebesar Rp 15,8 milyar atau 341,4% dari target sebesar Rp 2,83 milyar. Bila dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu, pencapaian laba ini lebih rendah 19,4%, di mana semester pertama tahun 2011 tercapai Rp 19,61 milyar. Hal itu disebabkan perseroan saat ini tengah mengimplementasikan hasil perumusan ulang (reformulasi) strategi bisnis dan korporasinya. Biaya terkait program itu sekitar Rp 11,76 milyar digunakan untuk migrasi sistem dan sumber daya selama semester pertama ini.


   Menurut Arief Safari, Dirut Sucofindo, perumusan ulang strategi bisnis perusahaannya ditujukan untuk mengantisipasi persaingan bisnis yang akan semakin ketat menjelang tahun 2015, khususnya menjelang implementasi pasar tunggal ASEAN. "Kami akan lebih fokus pada enam pengembangan layanan yang terintegrasi di bidang migas, batubara dan pertambangan, keindustrian, perdagangan dan komoditi, layanan sektor publik, serta lingkungan", jelas Arief.


Lebih lanjut Arief menambahkan bahwa industri inspeksi lokal akan menghadapi persaingan yang amat ketat di tahun 2015, terkait dengan implementasi Pasar Tunggal ASEAN. Oleh karena itu, pihaknya mempersiapkan diri sejak dini untuk menjadi pemimpin industri inspeksi, pengujian, dan sertifikasi di ASEAN pada tahun 2015. "Saat ini kami memang leading di Indonesia, tapi kami tidak akan berhenti di situ, kami siap memiliki peran lebih luas dalam industri ini di ASEAN", ujar Arief. Ia menambahkan pihaknya telah mempersiapkan sejumlah strategi khusus untuk hadapi persaingan dengan perusahaan inspeksi global.

Terkait dengan pengembangan bisnis, di awal tahun ini Sucofindo telah membuka beberapa layanan baru seperti pengujian dan analisis coal bed methane (CBM), dan audit energi.  Hal itu juga untuk mendukung pihak industri dan pemerintah dalam mengembangkan terus pemanfaatan energi alternatif non migas, seperti CBM yang banyak terdapat di Indonesia.   "Kami membangun laboratorium bergerak agar dapat menjangkau seluruh pelosok agar lebih cepat melayani pelanggan kami".

Di bidang energi, selain melayani audit energi untuk mengukur kinerja energi suatu industri atau organisasi, Sucofindo juga layani pelatihan konservasi dan efisiensi energi, produksi bersih, manajemen energi serta konsultasi industri dan bangunan hijau, dan implementasi ISO 50001.(hms)