Sucofindo Layani Pengujian CBM & Audit Energi

Rabu, 29 Agustus 2012 | 14:51


PT Sucofindo terus berupaya menambah pundi-pundi pemasukan dengan cara mendiversifikasi layanan. Tahun ini, perusahaan pelat merah ini menambah sekaligus dua layanan, yaitu pengujian Coal Bed Methane (CBM) dan audit energi.
Sekedar gambaran, Sucofindo memiliki tiga lini bisnis utama, yaitu inspeksi & audit, pengujian, dan sertifikasi. Ketiga lini tersebut mencakup beragam sektor, mulai tambang, pertanian, kimia, transportasi, juga keuangan.

Direktur Utama PT Sucofindo Arief Safari menyebut, pihaknya telah mengantongi kontrak perdana untuk uji CBM pada Juli 2012. Sucofindo meneken kontrak dengan perusahaan asing. Nilai kontrak mencapai US$ 2 juta dan berjangka waktu setahun.

Kontrak itu menyatakan, Sucofindo akan melakukan uji terkait rencana perusahaan itu mengebor 11 sumur di Sumatra Selatan. Rencananya, hingga masa kontrak berakhir, perusahaan itu akan menambah sembilan sumur lagi. Proyek ini akan mulai dikerjakan pada Agustus 2012.

Selain itu, Sucofindo juga sedang dalam proses meraih klien baru, yaitu perusahaan batubara Banpu di Kalimantan Timur. Rencananya, kerjasama akan berjalan selama empat tahun untuk pengerjaan tiga sumur.

Namun, untuk proyek ini, Arief belum bisa membeberkan nilai kontrak, lantaran masih diproses. Perusahaan menargetkan proses kontrak rampung sebulan ke depan. "Kami menargetkan, tahun ini, dapat meraih total 8 proyek uji CBM," ungkapnya, Senin (27/8).

Sucofindo membuka layanan uji CBM demi mendukung program diversifikasi energi yang dicanangkan pemerintah sejak 2008 silam.

Tak heran, guna mendukung layanan uji CBM, Sucofindo baru saja meluncurkan dua unit laboratorium CBM bergerak di Cibitung, Bekasi. Selain itu, perusahaan itu juga memiliki dua laboratorium sentral yang mampu melakukan uji analisa keseluruhan untuk CBM, yaitu di Balikpapan dan Palembang. "Laboratorium itu akan membantu industri. Tidak perlu kirim sampel ke luar negeri, semua bisa di sini," papar Arief.

Audit energi

Bisnis laboratorium CBM diperkirakan bakal berkontribusi 10%-20% terhadap total pendapatan Sucofindo. Ke depan, bisnis uji energi cadangan ini diproyeksi menyumbang lebih besar lagi.

Tak hanya uji CBM, mulai semester kedua 2012, Sucofindo telah membuka layanan terbaru, yaitu audit energi. Meski terbilang baru, Sucofindo telah meraih empat kontrak, yaitu dari Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Pertamina, dan dua perusahaan minyak swasta. Total nilai kontrak itu mencapai Rp 8 miliar.

Menurut Arief, rata-rata jangka waktu kontrak audit energi tersebut hanya berumur lima bulan. "Meskipun nilainya masih kecil, kami optimistis 4 tahun - 5 tahun mendatang, pasar audit energi akan mencapai hingga 15 kali lipat dari pasarnya saat ini," ujarnya. Dia optimistis, layanan ini bakal mampu menyumbang pemasukan sekitar Rp 80 miliar-Rp 120 miliar.

Tahun ini, Sucofindo mengincar pendapatan mencapai Rp 1,78 triliun. Adapun, hingga semester pertama 2012, perusahaan itu sudah menorehkan pendapatan Rp 676,3 miliar, naik 20,9% dibanding realisasi pendapatan periode yang sama tahun lalu.

Sayang, laba setelah pajak justru turun, karena perusahaan harus merogoh kocek cukup besar untuk proyek perumusan ulang strategi bisnis dan korporasi. Alhasil, pada akhir Juni 2012, Sucofindo hanya memperoleh laba Rp 15,8 miliar, atau lebih rendah 19,4% dari periode yang sama tahun lalu.

Oleh Tri Sulistiowati
sumber http://industri.kontan.co.id