Masa Depan Industri Tambang Tetap Cerah

Senin, 30 Juli 2012 | 10:44


WAKIL Direktur ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro menilai industri pertambangan akan tetap cerah pascapengetatan ekspor bahan mentah sejak Juni 2012. \"Produk tambang merupakan barang strategis sehingga berdasarkan konsep ekonomi akan tetap jalan dan berkembang,\" katanya di Jakarta, Sabtu (28/7).Apalagi, lanjut dia, kebijakan pengetatan ekspor tersebut tidak membuat perusahaan tambang merugi. Namun, hanya mengalami pengurangan margin.

Dengan demikian, kata Komaidi, sepanjang pendapatan masih menutup biaya variabel, maka perusahaan akan tetap untung dan berkembang. "Sementara, kalau mereka tutup, malah rugi lebih besar karena sudah investasi dan banyak aset tetap yang sudah tertanam," ujarnya.

Ia menilai ancaman penghentian operasi perusahaan pascapengetatan ekspor hanyalah untuk menaikkan daya tawar saja. "Berlebihan menurut saya," katanya menandaskan.

Ke depan, lanjut Komaidi, pemerintah hanya perlu konsisten saja dengan kebijakan pengetatan ekspor tersebut. "Seperti penyiapan smelter (pabrik pengolahan) dan menjamin ketersediaan pasokan listriknya," katanya.

Menurut dia, konsistensi tersebut menjadi penting karena sering kali pemerintah sendiri yang tidak konsekuen dengan kebijakan yang sudah diambil.

Akibatnya, lanjut dia, meski kebijakanya benar. Namun, karena tidak konsisten, akhirnya menjadi tidak maksimal dan terkesan kebijakannya yang salah.

Pemerintah mengeluarkan paket kebijakan pengetatan ekspor bagi 65 jenis produk tambang mentah.

Izin ekspor hanya diberikan jika perusahaan tambang memenuhi persyaratan, antara lain membayar bea ekspor sebesar 20 persen, menyerahkan rencana kerja pembangunan pengolahan dan pemurnian sebelum 2014, menandatangani pakta integritas, dan tidak bermasalah (clear and clean).

Ke-65 jenis itu terbagi menjadi tiga, yakni 21 mineral logam seperti biji besi, mangan, tembaga, nikel, kobalt, alumunium, timbal, seng, kromium, molibdenum, ilmenite, titanium, zirconium, perak, emas, platinum, dan antimoni.

Selain itu, 10 jenis mineral bukan logam, di antaranya kuarsa, kaolin, batu kapur, feldspar, zirconium silikat, zeloit, dan intan.

Di samping itu, 34 jenis batuan seperti marmer, onik, granit, topas, giok, toseki, dan peridotit.

Tujuan kebijakan pengendalian ekspor tambang adalah mencegah kegiatan produksi secara berlebihan, pemenuhan kebutuhan di dalam negeri, dan kegiatan tambang yang berwawasan lingkungan. Antara


oleh SONNY TUMBELAKA
sumber http://www.jurnas.com