AGRIBISNIS KAKAO: Bibit sebaran pemerintah mengandung kelemahan

Kamis, 28 Juni 2012 | 15:51


Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Alam Universitas Hasanuddin menemukan beberapa kelemahan bibit kakao somatic embryogenesis yang disebarkan pemerintah melalui program gerakan nasional kakao.Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Alam (Puslitbang SDA) Universitas Hasanuddin Prof. Sikstus Gusli mengatakan hasil survei dan penelitian Unhas menemukan sekitar 74% lahan peremajaan kakao di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat rusak akibat penggunaan teknologi pembibitan kakao somatic embryogenesis (SE).

"Puslitbang telah melakukan survei di wilayah Sulsel dan Sulbar. Ada 60 kebun kakao yang menggunakan SE yang kami pilih secara acak. Hanya 26% yang kami temukan masih bagus, tetapi kondisinya tidak sehat," ujarnya Rabu (27/6/2012).

Dia menjelaskan, kebun kakao yang ditemukan dalam kondisi bagus sekitar 68% diantaranya terserang hama seperti penggerek buah kakao dan vascular streak dieback (VSD) yang merupakan penyakit yang paling ditakuti petani kakao saat ini.

"Temuan ini direkomendasikan setelah Unhas melakukan penelitian sejak 2009 lalu. Hasil temuan ini sudah kami kirimkan ke Kementerian Pertanian dan pusat penelitian kakao di Jember," kata dia.

Sikstus yang juga menjabat sebagai Chairman Cocoa Sustainability Partnership (CSP) juga melakukan konfirmasi ke peneliti-peneliti dari organisasi kakao internasional juga menemukan adanya persoalan yang sama.

Ternyata persoalan yang dikonfirmasi ke petani dan pengamat dari organisasi kakao yang mencakup semua lokasi tidak menemukan adanya masalah iklim, umur tanaman dan kesalahan praktik atau manajemen petani. (k15/ra)

Oleh JIBI 
sumber http://www.bisnis.com