TANAMAN OBAT: Pengembangannya masih setengah hati

Jumat, 22 Juni 2012 | 09:00


Pengembangan tanaman obat di Indonesia belum didukung keterbukaan pasar dan optimalisasi daya serap industri farmasi dan biofarmaka.Kapasitas produksi yang minim membuat industri lebih memilih mengimpor bahan baku hingga US$160 juta setiap tahun.

Ketua Asosiasi Pengembangan Tanaman Obat Indonesia Suwarsi Moertedjo mengungkapkan pengembangan budidaya tanaman obat masih setengah hati karena belum adanya jaminan pembelian hasil panen.

"Padahal, potensi tanaman obat di Indonesia masih dapat dikembangkan melalui sinergi sektor hulu-hilir," ujarnya, Kamis (21/6/2012).

Indonesia dapat mengambil peranan penting dalam penyediaan bahan baku produk farmasi terdiri dari 38% tanaman medical dan aromatic, 24% untuk tanaman extract dan vegetables saps, serta  11% untuk tanaman vegetables alkaloids.

Selain memasok pasar domestik, pengembang tanaman obat dapat berkontribusi menyuplai pasar ekspor yang kian menjanjikan ke sejumlah negara Uni Eropa.

Total ekspor bahan baku rempah dan herbal ke Uni Eropa tahun lalu mencapai 358.200 ton.

Pertumbuhan permintaan tanaman obat ke luar negeri juga menggiurkan karena diperkirakan meningkat 4% setiap tahun. (ra)

Oleh Surya Mahendra Saputra
sumber http://www.bisnis.com