Kelapa segar semakin diminati luar negeri

Kamis, 14 Juni 2012 | 13:59


Dinas Perkebunan Jawa Tengah mengakui, kelapa segar dari dalam negeri saat ini semakin diminati konsumen di sejumlah negara tujuan ekspor, terutama Thailand, Vietnam, China, dan Yordania."Kalau dulu kopra (daging buah kelapa yang dikeringkan, red.) yang banyak diminati, namun sekarang ini permintaan justru banyak untuk kelapa segar," kata Kepala Disbun Jateng Tegoeh Wynarno Haroeno di Semarang, Kamis.

Semakin besarnya konsumsi masyarakat di sejumlah negara itu atas kelapa segar, katanya, menjadikan ekspor kelapa segar terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

Namun, pada kesempatan itu ia tidak menyebutkan rincian kenaikan ekspor tersebut.

Ia mengakui, sebagian besar komoditas kelapa yang dihasilkan memang masih untuk industri pengolahan dengan bahan baku kelapa di dalam negeri, kemudian konsumsi rumah tangga, dan perdagangan lintas provinsi.

Sebagai contoh, kata dia, produksi kelapa 2010 untuk industri pengolahan dengan bahan baku kelapa sebesar 95.720 ton, konsumsi rumah tangga 33.118 ton, perdagangan lintas provinsi 8.145 ton, dan ekspor 4.975 ton.

Seiring dengan meningkatnya permintaan kelapa segar, kata dia, ketersediaan kelapa di Jateng terus meningkat dan mengalami surplus sejak 2008-2011 dengan tingkat produksi pada 2011 yang mencapai 396.542 ton.

Pada 2011, kata dia, lahan kelapa mencapai 257.700,92 hektare yang terdiri atas jenis kelapa deres untuk pembuatan gula merah dan kelapa dalam, dengan produktivitas kelapa mencapai 4.006 kilogram per hektare.

Pada 2012, kata Tegoeh, Disbun Jateng berencana mengembangkan lahan kelapa seluas 1.790 hektare antara lain di Kabupaten Kebumen, Purworejo, Tegal, Batang, Magelang, dan Cilacap yang masing-masing seluas 250 hektare.

"Kemudian, di Klaten seluas 200 hektare. Itu dari APBN, sementara dari APBD Jateng masing-masing 10 hektare di sembilan kabupaten, yakni Temanggung, Pekalongan, Rembang, Blora, Demak, Banyumas, Purbalingga, Kendal, dan Jepara," katanya.

Meski permintaan ekspor kelapa segar meningkat, ia mengaku tetap melakukan berbagai langkah antisipatif untuk melindungi produk dalam negeri, seperti mengharuskan kelapa yang diekspor dihilangkan sabutnya.

"Kami awasi betul, kelapa segar yang akan diekspor harus dihilangkan dulu sabutnya minimal 60 persen. Kalau tidak seperti itu kan bisa ditanam lagi di sana. Karena itu, sabut kelapa yang diekspor dibersihkan," katanya.

Kelapa, kata Tegoeh, dijuluki "tanaman ekonomi" karena semua bagian tanaman bisa dimanfaatkan dan menjadi berbagai produk, mulai gula kelapa, santan, minyak, arang tempurung, sabut dan pupuk organik, hingga "nata de coco".

sumber http://www.antaranews.com