BUDI DAYA AIR PAYAU: Rp34 miliar untuk teliti potensi udang windu

Senin, 11 Juni 2012 | 10:34


TAKALAR: Balai Penelitian dan Pengembangan Budi daya Air Payau atau BPPBAP yang terdapat di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan mengelola dana sebesar Rp34 miliar untuk penelitian komoditas budi daya air payau termasuk udang windu.Rachman Syah, Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Payau (BPPBAP) mengatakan alokasi anggaran yang diperoleh dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tersebut tahun ini akan dimanfaatkan untuk mendukung pembangunan infrastruktur sarana riset.

"Sarana riset ini akan dibangun di instalasi pembenihan BPPBAP yang terdapat di desa Lawallu, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan," ujarnya hari ini, Minggu (10/6).

Menurutnya, balai penelitian seperti ini hanya ada tiga di Indonesia. Balai penelitian yang ada di Maros khusus menangani budi daya air payau, sedangkan balai riset lainnya terdapat di Sempur, Bogor yang meneliti khusus budi daya air tawar. Sementara budidaya laut ditempatkan di Gondol, Bali.

Selain instalasi pembenihan di Barru, BPPBAP juga memiliki sarana pelaksanaan riset di Desa Laikang, Kabupaten Takalar, Sulsel seperti tambak percobaan seluas 12 hektare (ha).

Total lahan BPPBAP saat ini, paparnya, mencapai seluas 102 ha. Sekitar 30 ha dimanfaatkan untuk tambak percobaan di Marana, Maros dan 12 ha di Takalar. Selebihnya dimanfaatkan untuk laboratorium, hatcheri atau pemeliharaan larva dan pendederan untuk produksi benih, serta mess karyawan dan sarana perkantoran.

Dia menyebutkan, BPPBAP mengalokasikan dana sebesar Rp7 miliar untuk membiayai riset pengembangan komoditas udang windu, rumput laut dan beberapa komoditas lainnya. Khusus instalasi pembenihan BPPBAP di Barru, dia menjelaskan pihaknya akan fokus melakukan riset pengembangan komoditas udang windu. 

"Udang windu salah satu komoditas khas negeri ini yang harus dipertahankan. Tahun ini, kegiatan penelitian kami akan difokuskan di komoditas ini," ungkapnya. (k15/arh)

Oleh JIBI
sumber http://www.bisnis.com