Indonesia Impor 350 Ribu Ekor Sapi

Selasa, 05 Juni 2012 | 09:40


Meneg BUMN RI, Dahlan Iskan menguak fakta bahwa Indonesia mengimpor 350 ribu ekor sapi pertahun. Oleh karena itu, dia menggagas agar daerah Sumatera sebagai daerah pabrik sawit terbesar di Indonesia, untuk berternak sapi. Agar kekurangan sapi di Indonesia bisa ditanggulangi.Gagasan lain yang disampaikan, pelepah sawit dijadikan pakan sapi. Potensi pabrik sawit di Sumatera yang luas perkebunan sawitnya sekitar 1 juta hektare, bias dimanfaatkan sebaik mungkin.

“Sehingga target tahun ini kita harus produksi 100 ribu ekor sapi. Tahun depan harus 300 ekor sapi,” tandasnya dalam dialog dengan warga Desa Bunigeulis, Cigandamekar yang dipandu Dede Awaludin, kemarin malam.

Selain fokus untuk mengupayakan agar Indonesia tidak lagi mengimpor sapi, juga mengamankan beras dan gula. Baru tahun depan, fokus kerjanya beralih ke kedelai, jagung dan garam.

Kaitan dengan beras, lanjutnya, tahun 2011 lalu, Bulog tidak membeli gabah dari petani. Namun sekarang Bulog diharuskan membelinya dari petani. Sehingga kini, 2 juta ton gabah petani dibeli oleh Bulog. Tidak hanya itu, dalam 5 bulan ke belakang pengadaan beras Bulog melebihi pengadaan 1 tahun sebelumnya.

Dalam menjawab pertanyaan dari seorang pengusaha Kuningan, H Ardian terkait konsep, Dahlan menyebutkan kekayaan BUMN senilai Rp3.000 triliun. Kekayaan tersebut menjadi amanahnya untuk diamankan dan tidak boleh dimainkan.

“Saya bertekad serius mengatasi pangan. Produksi beras harus naik. Jika tahun lalu Indonesia mengimpor beras 1,7 ton, maka ke depan tidak lagi,” ucapnya.

Cara untuk mengupayakan hal itu, para petani yang tidak bisa memperoleh benih yang baik, akan dipinjami. Jika uang yang dipinjamkan hasilnya tidak akan bagus. Beda halnya dengan meminjamkan benih. Begitu juga pinjaman pupuk yang baik. Sehingga para petani tidak menggunakan pupuk palsu yang mengakibatkan hasil panennya tidak baik.

“Mupuk itu tidak sembarangan. Ketika petani tidak punya uang untuk membeli pupuk, pemupukan sawah tidak bisa diundur. Makanya, kita harus berikan pinjaman pupuk yang bagus,” ungkapnya.

Para petani yang membutuhkan benih dan pupuk yang baik, Indonesia memiliki BUMN PT Sang Hyang Seri, Pertani, Bulog dan BUMN lainnya. “Petani tinggal bilang saja untuk bisa mendapatkan pinjaman,” kata menteri yang kerap mengenakan sepatu kets itu.

Pinjaman benih dan pupuk bisa dibayarkan oleh petani pada saat musim panen tiba. Dengan cara begitu, diharapkan target produksi beras sampai tidak lagi mengimpor dari luar negeri, tercapai.

Pada awal dialog, Dahlan membahas hasil kunjungannya ke pabrik gula dan pabrik garam di Majalengka dan Cirebon. Ia melakukan kunjungan seperti itu dalam upaya mendongkrak produksi kedua bahan yang kerap mengimpor dari luar negeri dalam jumlah yang sangat besar.

Impor garam baginya tidak menjadi masalah. Sebab garam dibutuhkan sebagai bahan kertas. Sementara Indonesia memiliki pabrik kertas yang cukup banyak, sehingga merupakan pemroduksi kertas terbesar keempat di dunia.

“Kalau impor garam nggak apa-apalah, asal buat pabrik kertas. Garam juga dibutuhkan Pertamina untuk mengebor minyak. Tapi garam untuk dimakan saya berharap tidak mesti ngimpor,” katanya. Menurut Dahlan, jika Indramayu dan Cirebon disatukan, maka bisa memproduksi 400 ribu ton.

Dialog yang berlangsung sejak pukul 20.45 itu hingga sekitar pukul 23.00 itu berlangsung santai. Banyak persoalan yang ditanyakan warga setempat dan juga undangan yang hadir. Bupati H Aang Hamid Suganda pun turut mendampingi Dahlan Iskan guna menjawab pertanyaan seputar wilayah kerjanya.

Ribuan warga antusias menghadiri kegiatan itu. Sejumlah pejabat lingkup Pemkab Kuningan pun tutur menyaksikan dialog yang berlangsung hidup itu. Setelah dialog berakhir, Dahlan langsung menuju rumah sederhana milik seorang nenek usia 70 tahun, Ny Kartini. Nenek yang sudah lama ditinggal suaminya itu berhasil menyekolahkan 6 anaknya sampai jenjang S1. Menteri yang kerap mengenakan kemeja putih tersebut beristirahat setelah berbincang-bincang dengan anggota keluarga Kartini. (ded)

sumber http://www.jpnn.com