INDUSTRI PULP & KERTAS perlu tambahan 1,5 juta hektare lahan

Kamis, 31 Mei 2012 | 09:10


Industri pulp dan kertas membutuhkan tambahan pembangunan hutan tanaman industri (HTI) seluas 1,5 juta hektar engan tingkat pertumbuhan 4%—5% hingga 2014 mendatang.Target produksi hasil hutan kayu hingga 2014

Produk

Volume

Pulp

13,3 juta ton

Kertas

8,1 juta ton

Plywood

8,6 juta m3

Kayu pertukangan

6,9 juta m3

Kayu gergajian

10,2 juta m3

Sumber: APKI

 


Ketua Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) Misbahul Huda mengungkapkan tambahan lahan HTI tersebut akan menjamin tersedianya bahan baku kayu guna merealisasikan target produksi yang diminta Kementerian Kehutanan yakni 13,3 juta ton pulp dan 8,1 juta ton kertas pada 2014.

Namun, seru Misbahul, pembangunan HTI pulp dan kertas berjalan lamban. Sejak 5 tahun terakhir, hanya 3,7 juta ha HTI yang dibangun dari 10 juta ha yang dicadangkan. Hingga tahun lalu, produksi pulp nasional baru mencapai 6,9 juta ton per tahun dan produksi kertas sebesar 11,5 juta ton, masih jauh tertinggal dari torehan Brazil yang mampu memproduksi 174 juta ton kertas di areal HTI seluas 63 juta ha.

“Bahkan, luas HTI Indonesia dengan Vietnam saja sudah hampir sama. Pemerintah harus menjamin tambahan HTI kalau masih berharap industri ini bisa menjadi tulang punggung devisa negara dari sektor kehutanan,” ungkapnya kepada Bisnis, Senin 28 Mei 2012.

Menurut Misbahul, terbatasnya jumlah HTI membuat pelaku industri mencari alternatif bahan baku dari kertas bekas yang diperoleh dengan mekanisme impor. Namun, hingga kini impor kertas bekas pun kian dipersulit melalui kebijakan total inspection yang dilakukan Sucofindo.

“Harus diakui, ketergantungan terhadap daur ulang kertas bekas masih sangat tinggi. PT Adiprimasuraprinta, misalnya, mengandalkan 80% bahan baku dari kertas bekas yang diimpor,” jelasnya.

Meski dibayangi sejumlah kendala, APKI tetap optimistis target produksi industri pulp dapat mencapai 20,4 juta ton dan kertas sebesar 19,8 juta ton pada 2020. produksi pulp dan kertas Indonesia berpotensi mengungguli negara-negara penghasil hutan tanaman produktif seperti Brazil, Amerika Serikat, bahkan China.

Sepanjang tahun lalu, konsumsi kertas dalam negeri mencapai 7,8 juta ton, dan kebutuhan dunia saat ini sebesar 394 juta ton. Pertumbuhan kebutuhan kertas di negara maju akan meningkat sekitar 0,5% per tahun sehingga diyakini mencapai 394 juta ton pada 2020.

Menurut Misbahul, proyeksi peningkatan kebutuhan kertas di negara-negara maju telah membuka peluang pertumbuhan volume ekspor. Pemerintah telah menargetkan kapasitas ekspor pulp dan kertas diharapkan meningkat 10% tahun ini. Ekspor pulp dan kertas tahun lalu bahkan mampu berkontribusi hingga US$ 6,2 miliar, atau sekitar 5% dari total ekspor Indonesia.

“Kondisi di dalam negeri sudah hampir mencapai over suplai, sehingga ke depan produksi akan dominan diarahkan untuk ekspor,” katanya.

Hanya saja, imbuh Misbahul, ketentuan standar legalitas kayu perlu mendapatkan perhatian serius untuk menjamin produk kertas Indonesia tidak terhambat masuk ke negara tujuan ekspor. Dia mencatat sebagian besar pelaku industri pulp dan kertas telah mengantongi sertifikasi verifikasi legalitas kayu (SVLK).

Oleh Surya Mahendra Saputra
sumber http://www.bisnis.com