Tiga Permen Sulitkan Pengusaha Rotan

Kamis, 24 Mei 2012 | 15:03


Kisruh Persoalan rotan yang sudah menghabiskan waktu dan menyusahkan pengusaha rotan sudah masuk pada bulan ke 6 yang sampai saat ini implementasi Permendag No 35, No 36 dan No 37 tahun 2011 mengenai rotan dinilai belum berjalan dengan baik.Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perdagangan, Distribusi dan Logistik Natsir Mansyur mengatakan, implementasi Permendag terkait rotan yang dinilai menyusahkan pengusaha itu diakibatkan karena pertama, Permendag 35 mengenai larangan bahan baku dimana petani rotan tidak mau lagi produksi rotan asalan karena tidak dapat ditampung oleh pengusaha industri rotan asalan tersebut.

“Ini mengakibatkan terjadinya stagnasi di lapangan.  Sehingga, petani rotan banyak beralih profesi ke komoditas lain yang lebih menguntungkan buat hidup,” kata Natsir dalam rilisnya, Rabu (23/5/2012).

Kedua, Permendag 36 tentang kewajiban verifikasi dimana selama ini pihak survejor sangatlah berbelit-belit birokrasinya. “Pemeriksaan yang secara teknis sangatlah berlebihan, sehingga menimbulkan biaya yang tinggi,” ujar Natsir.
 
Ketiga, Permendag 37 tentang resi gudang yang untuk komunitas rotan belum siap untuk diresi gudangkan. “Belum siap karena infrastruktur mulai dari sarana sampai kepada pembiayaannya pun belum jelas,” tambah Natsir.
 
Kadin meminta kepada Kementrian Perdagangan (Kemendag) supaya persoalan rotan ini tidak berlarut-larut, karena para pengusaha rotan daerah sudah mengalami kerugian yang besar sehingga berdampak kepada pemberhentian usaha dan PHK. “Saya berharap kepada Kemendag untuk lebih serius terhadap masalah ini, apalah artinya 3 permendag ini dikeluarkan tapi malah menyusahkan pengusaha dan petani rotan,” pungkas Natsir.


Sumber http://www.tribunnews.com