SUCOFINDO, melakukan Audit Animal Welfare di Singapura

Selasa, 01 Mei 2012 | 07:28


Ketentuan pelaksanaan kesejahteraan hewan yang menjadi bagian dalam transaksi perdagangan hewan ternak hidup yang ditetapkan WTO, telah menjadi kewajiban eksportir ternak Australia yang mengirim ternak-ternak mereka ke berbagai negara, sebagaimana ditetapkan oleh Department of Agriculture, Fishery & Forestry (DAFF) Australia.Di Indonesia sendiri, pemenuhan penerapan kaidah-kaidah kesejahteraan hewan atau Animal Welfare menjadi bagian penting bagi feedloter Indonesia yang mengimpor ternak hidup dari Australia, baik sapi bakalan maupun kerbau bakalan yang kemudian digemukan dan dipotong di RPH-RPH di dalam negeri, dimana pelaksanaannya harus dilakukan verifikasi oleh auditor independen. SUCOFINDO sendiri melaksanakan jasa Audit Animal Welfare & Traceability (AWT) terhadap beberapa supply chain / rantai pasok sapi dan kerbau impor di berbagai lokasi.

Salah satu eksportir Australia, yaitu International Livestock Export Pty.Ltd (ILE) yang berbasis di Perth Australia, telah memberi kepercayaan kepada SUCOFINDO guna melaksanakan audit animal welfare untuk domba Australia yang diekspornya ke Singapura. Mr. Michael A. Stanton, dalam pertemuanya dengan SUCOFINDO yang diwakili oleh Koodinator Audit AWT Sdr. A. Iskandar, K dari CTS-Agri, pada tanggal 17 April 2012 di Jakarta, telah menyampaikan rencana kegiatan audit AWT di berbagai negara, yang diawali dengan pelaksanaan initial audit untuk supply chain mereka di Singapura.

Kegiatan Audit AWT di Singapura, merupakan sebuah kegiatan yang spesifik untuk ternak-ternak domba dan atau kambing yang akan digunakan masyarakat muslimdi Singapura, untuk kebutuhan ibadah Aqiqah dan Kurban. Karena sejak berjangkitnya kasus Sapi Gula/Mad Cow di dunia, Pemerintah Singapura tidak lagi memperkenankan adanya ternak hidup yang dipelihara dan atau disembelih dinegaranya dan sejak tahun 2000, satu-satunya RPH (rumah potong hewan) yang berada dikawasan Jurong telah ditiadakan.

Sedangkan untuk kebutuhan konsumsi daging dipenuhi dari impor daging beku, baik daging sapi, kerbau, domba mapun daging kambing. Sementara untuk babi, proses pemotongan tetap dilakukan, namun berlokasi di pulau kecil yang berada di daerah perbatasan, dan ditransportasikan dalam bentk fresh meat dan frozen meat kedaratan Singapura.

Khusus untuk kebutuhan ibadah pemeluk agama tertentu, maka Pemerintah Singapura menetapkan ketentuan yang ketat dan disupervisi secara khusus oleh AVA – Agri-Food & Veterinary Authority of Singapore dan SAC – Singapore Accreditation Program. Untuk kebutuhan pemenuhan hewan ternak Qurban dan Aqiqah, pemerintah Singapura hanya memberi ijin kepada Masjid tertentu dan Importir tertentu, dengan petugas penyembelih yang sudah dilatih dan dinyatakan lulus oleh AVA, demikianpun untuk kebutuhan hewan ternak guna pelaksanaan ibadah agama lain yang berada di Singapura.

Terkait dengan adanya ketentuan ESCAS – Exporter Supply Chain Assurance System yang diwajibkan DAFF kepada eksportir ternak di Australia, maka hewan ternak Aqiqah maupun Qurban yang masuk ke Singapura yang berasal dari Australia, harus dapat dikelola dengan memperhatikan kaidah kesejahteraan hewan yang dikeluarkan oleh OIE (Office Internationale des Epizootica) atau Badan Kesehatan Hewan Dunia yang berpusat di Paris.
SUCOFINDO, melakukan audit AWT untuk supply chain dari ILE yang diimpor oleh importir Singapura. Importir tersebut telah ditunjuk oleh MUIS (Majelis Ugama Islam Singapura) dan kemudian mendistribusikan domba ke Masjid-Masjid di Singapura yang telah disetujui AVA.

Aqiqah dan Qurban di Singapura dikelola secara terpusat oleh MUIS dengan membentuk JKMS – Jawatankuasa Korban Masjid-Masjid Singapura atau Singapore Mosques Korban Committee. Lembaga ini bekerjasama dengan importer dalam hal ini Approved Korban Vendor yakni Mini Environment Services Pte Ltd, dalam mengembangkan prosedur penerapan kesejahteraan hewan mulai dari proses pembongkaran dari pesawat terbang, transportasi ke Masjid, penampungan sementara di Masjid, hingga proses pemotongan dan distribusinya, yang mereka namakan Korban Master Standard Operating Procedure. Standar ini, kemudian
didistribusikan kepada setiap Masjid dan setiap Masjid akan menurunkannya menjadi tahapan-tahapan instruksi kerja yang rinci.

Audit AWT di Singapura dimulai pada tanggal 26 April 2012 dan berkahir pada tanggal 28 April 2012. Dimulai dengan preliminary inspection di Korban Operation Area Masjid Sultan – Bugis. Pada tanggal 27 April 2012, tim auditor melakukan pertemuan teknis sebagai Opening Meeting, dengan MUIS, AVA, SAC dan MES Group di gedung MUIS di Bradell Road di pagi hari, kemudian, pada siang hari hingga malam hari Tim auditor SUCOFINDO melakukan audit pada proses discharging operation di area kargo - Changi Airport, perjalanan dari bandara ke tempat penampungan di Masjid, dan proses penerimaan ternak domba di tempat penampungan di Masjid. Audit pada proses pemotongan dilakukan pada tanggal 28 April 2012 di Masjid Sultan, bersamaan dengan pelaksanaan Aqiqah untuk 100 ekor domba.

Kegiatan audit AWT lanjutan di Singapura akan dilaksanakan pada awal Juli 2012, untuk proses pemotongan Domba yang akan digunakan Nisfu Syaban 1433 H, hingga proses importasi domba untuk Qurban dan proses pemotongan hewan Qurban pada Iedul adha 1433 H. Pelaksanaan audit juga akan dilakukan untuk Kambing yang akan digunakan masyarakat Nepal dari dari suku Gurkha yang bekerja di Kepolisian Singapura, dimana mereka mengadakan ibadah persembahan di bulan Oktober 2012.

Kegiatan AWT sejenis, rencananya juga akan dilaksanakan oleh Tim auditor AWT di negara lain, sebagaimana rencana tersebut disampaikan oleh setidaknya dua eksportir Australia kepada Tim AWT Sucofindo, antara lain di Philippina, Malaysia, dan Turki.