Nilai Perdagangan CPO Bersertifikat Capai US$ 20,4 Juta

Selasa, 03 April 2012 | 09:28


Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), lembaga nirlaba yang mengeluarkan sertifikat minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dan) berkelanjutan, mencatat perdagangan CPO dan inti sawit (kernel) bersertifikat sepanjang 2008-2011 mencapai US$ 20,4 juta. Desi Kusumadewi, Direktur RSPO Indonesia, mengatakan volume penjualan sawit dan kernel bersertifikat juga tumbuh 620% menjadi 2,49 juta ton pada 2011 dari 2009 berjumlah 343.857 ton.Menurut Desi nilai perdagangan CPO tersebut merupakan data yang tercatat di GreenPalm, broker perdagangan CPO bersertifikat. RSPO belum mengetahui nilai perdagangan fisik diluar data GreenPalm.

Perdagangan fisik ini merupakan transaksi jual beli secara langsung antara produsen CPO dan pembeli dari pelaku usaha manufaktur atau trader dan biasanya terjadi negosiasi harga. Desi menjelaskan harga rata-rata CPO bersertifikat yang diperdagangkan di sana sekitar US$ 6 per ton.

Berdasarkan laporan GreenPalm, nilai perdagangan CPO bersertifikat tertinggi terjadi pada 2011 sebesar US$ 8,76 juta. Nilai perdagangan ini lebih tinggi dibandingkan 2010 sebesar US$ 6,47 juta dan pada 2009 sebesar US$ 2,26 juta. Perdagangan CPO bersertifikat pada 2008 baru US$ 287.840. Sisanya adalah nilai perdagangan untuk minyak inti sawit.

Bungaran Saragih, Penasihat RSPO Indonesia, mengatakan anggota RSPO diperkirakan terus bertambah yang terlihat dari terus meningkatnya pasokan CPO bersertikat. Apalagi anggota RSPO dari kalangan pembeli seperti pelaku usaha manufaktur dan pengolahan sudah berkomitmen membeli CPO bersertifikat sampai 100% dari total kebutuhan mereka. “Sekarang pembelian CPO bersertifikat belum 100% dari total kebutuhan mereka,” ujar dia.

Data RSPO menunjukkan sepanjang 2011 produksi CPO bersertifikat mencapai 5,7 juta ton dan minyak inti sawit bersertifikat 1,3 juta ton. Total luas lahan yang sudah bersertifikat RSPO mencapai 1,14 juta hektare dan pabrik bersertifikat RSPO berjumlah 141 unit.

Malaysia menempati posisi pertama sebagai produsen CPO bersertifikat sebanyak 2,69 juta ton (47,3%). Disusul Indonesia berjumlah 2,41 juta ton (42,4%) dan sisanya dari negara lain berjumlah 588.393 ton (10,3%).

Sementara itu pemerintah pada bulan ini mulai melakukan audit sertifikasi untuk Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO). Suswono, Menteri Pertanian, mengatakan perusahaan perkebunan sawit di dalam negeri wajib memiliki sertifikat ISPO. Targetnya seluruh perusahaan dapat mengantongi sertifikat tersebut pada akhir Desember 2012.

Dia menambahkan ISPO akan menjadi merek untuk penjualan minyak sawit di pasar internasional. Pemerintah akan melakukan sosialisasi ISPO ke beberapa negara, antara lain Jerman, Prancis, Amerika Serikat, dan Belanda.

Kegiatan penilaian sertifikasi akan merujuk kepada Peraturan Menteri Pertanian Nomor 7 Tahun 2009 tentang Pedoman Penilaian Usaha Perkebunan. Petugas audit akan dilakukan pegawai dinas perkebunan di tingkat provinsi dan kabupaten atau kota. (QAYUUM AMRI)

Sumber http://twiffo.com/Uqg