Sektor Kelautan I Stok Garam Harus Digenjot hingga 840 Ribu Ton

Kamis, 01 Maret 2012 | 13:11


Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menduga adanya praktik penimbunan garam. Saat ini produksi garam minim tetapi harga yang terbentuk di pasar rendah. Hal ini membuktikan terjadi anomali pasar pada komoditas garam."Saat ini harga garam menurun, kalau seperti itu seharusnya terjadi over supply. Tetapi hasil pertemuan dengan pengusaha, mereka tidak bisa menyerap garam karena produksinya tidak ada. Saya belum bisa pastikan apakah itu karena penimbunan," kata Dirjen Kelautan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Sudirman Saad, di Jakarta, Selasa (28/2).

Sudirman berjanji akan melakukan pengecekan di lapangan untuk membuktikan posisi garam. Dengan begitu nantinya akan diketahui apakah garam selama ini dikuasai petani atau "ditimbun" oknum pedagang. Dalam pengecekan itu, KKP berharap mengetahui volume, posisi, dan kualitas garam yang ada.

Informasi sementara yang diperoleh, kata Sudirman, sebagian besar garam berada di tingkat pengumpul. Apabila posisi itu diketahui, maka KKP meminta pengusaha yang kesulitan mendapatkan garam untuk melakukan penyerapan.

"Kita sudah melakukan koordinasi dengan pengusaha, agar mereka membeli garam itu. Kasusnya itu, misalkan di Jawa Barat ada ratusan ton produksinya, tetapi pengusaha tidak bisa mendapatkan garam karena barangnya tidak ada," ungkapnya.

Lebih lanjut, Sudirman memaparkan berdasarkan data yang masuk, stok garam konsumsi nasional 306 ribu ton hingga Januari 2012. Dengan kebutuhan konsumsi per bulan 120 ribu ton, maka stok tersebut mencukupi hingga bulan Maret.

Sudirman mengatakan dengan posisi stok yang menipis, pihaknya akan mencari dan mengamankan produksi garam yang ada agar bisa terserap.

Terkait dengan itu, Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo mengatakan saat ini data soal garam belum akurat. "Data KKP, Kementerian Perindustrian dan Perdagangan belum sinkron. Tanpa data akurat, maka bisa salah mengambil kebijakan," ungkapnya.

Cicip menambahkan berdasarkan data Sucofindo, stok garam nasional 306 ribu ton di bulan Januari, dengan kebutuhan per bulan 120 ribu ton, maka stok tersebut habis di bulan Maret. Untuk kebutuhan April, Mei, Juni, dan Juli, dibutuhkan impor 500 ribu ton, sedangkan Agustus mulai masuk panen garam.

Kementerian Kelautan dan Perikanan, kata Sharif Cicip Sutardjo, akan melakukan pengecekan kondisi stok garam saat ini yang ada di Jawa, Nusa Tengara Timur, dan Nusa Tenggara Barat. Saat ini, menurut Cicip, petani sudah tidak memegang garam karena sudah dijual, jadi posisi garam ada di pengepul.

Terkait hal tersebut, Dirjen Perdagangan Luar Negeri Dedi Saleh mengatakan saat ini stok garam sudah hampir habis. Untuk itu, KKP akan melakukan pengecekan apakah benar sudah habis. "Kalau ada lebih kita amankan itu, tetapi jangan terus-menerus bilang ada stok tetapi nggak ada barangnya," ungkapnya.

Dengan kondisi stok yang ada, kata Dedi, Kementerian Perdagangan berharap impor garam bisa mulai masuk pertengahan Maret. Jadi garam impor akan masuk bertahap. Tahap pertama sebesar 300 ribu ton pada Maret sampai April, dan 200 ribu ton pada bulan Mei dan Juni.

Rencananya, garam tersebut akan diimpor dari India karena jenis garamnya sesuai dengan garam konsumsi.

Genjot Stok Garam

Di tempat yang sama, Deputi Menko Perekonomian Bidang Kelautan dan Pertanian Diah Maulida menyatakan untuk menghentikan impor garam konsumsi, pemerintah harus mampu menyediakan stok 840 ribu ton untuk kebutuhan selama tujuh bulan, Januari sampai Juli, atau sebelum masa produksi.

"Produksi garam tahun ini kita harapkan bisa mencapai 1,4-1,5 juta ton. Dengan membaiknya produksi, maka diharpakan kebutuhan konsumsi bisa dipenuhi dari dalam negeri," imbuhnya. aan/E-12


Sumber http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/84746