REGULASI ROTAN bebani perajin & pengusaha

Selasa, 28 Februari 2012 | 11:38


Sejumlah pengusaha rotan dan kerajinan rotan di Kalimantan Barat (Kalbar) mengeluhkan regulasi baru yang ditetapkan Menteri Perdagangan. Para pengusaha itu menilai regulasi yang memberatkan itu  adalah Peraturan Menteri Perdagangan No. 36/ 2011 yang membahas pengiriman rotan antar pulau yang ada di Indonesia.
 
Rudyzar,  Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Rotan Indonesia (APRI) Wilayah Kalimantan, menyatakan sejumlah peraturan yang dikeluarkan oleh Menteri Perdagangan itu sangat menghambat.
 
Menurutnya perkembangan industri rotan di semua daerah yang berada di Indonesia termasuk Kalbar sudah berat ditambah lagi aturan Permen Perdagangan tersebut.
 
Rudyzar menjelaskan isi Permen Perdagangan itu mempersulit proses pengiriman rotan antar pulau, yang salah satu isinya adalah kewajiban melengkapi pengiriman rotan. Dokumen harus atas pengawasan pihak terkait yang ditetapkan Kementerian Perdagangan.
 
"Kalau harus begini apa bedanya dengan ekspor ? Padahal sama-sama di negara sendiri," ujar Rudyzar, hari ini.
 
Dia menguraikan akibat dari sejumlah aturan itu proses pengiriman rotan  akan menjadi lama, karena memakan waktu pemeriksaan dan verifikasi. “Perjalanan makin akan lama, otomatis cost juga bertambah," imbuhnya.
 
Dikatakannya, sejumlah rotan mentah itu tidak tahan lama, dengan site mini. Akibatnya selain pengusaha, para petani rotan dan konsumen juga akan mengalami kerugian yang cukup besar
 
“Ya industri pengolahan rotan terancam tutup akibat semakin sulitnya memproleh bahan baku, apalagi dengan adanya peraturan seperti ini, lama sedikit rusak, siapa yang mau ganti rugi," ketus Rudyzar.
 
Rudyzar menjelaskan, sampai saat ini hanya ada tinggal 5 pabrik rotan yang masih bertahan di daerahnya. Selain miliknya sendiri yang terletak di Kota Pontianak, dia juga memiliki tempat lainnya, yakni di Kabupaten Melawi, Kabupaten Kapuas Hulu, Kabupaten Sintang, dan Kabupaten Sanggau.
 
"Padahal industri pengolahan itu menyerap tenaga yang banyak karena melibatkan petani, pengumpul, tenaga pengangkut, dan tenaga pengolah,"
 
Akibat Permen Perdagangan itu, kata Rudyzar, pihaknya pada 2011 mengalami kerugian lumayan besar.
 
"Padahal saya memilki berton-ton rotan yang belum sempat dikirim karena sudah loss time pada 31 Desember 2011  lalu. Kalau sudah begini, apa pemerintah mau ganti rugi ? lebih baik rotan-rotan ini akan saya  bakar saja,” ujarnya kesal.(sut)

Oleh Odie Krisno
Sumber http://www.bisnis.com