IMPOR GULA: Kapasitas importir jadi pertimbangan

Senin, 27 Februari 2012 | 12:49


Impor gula kasar untuk memenuhi kebutuhan gula konsumsi kemungkinan bisa dilakukan oleh importir yang tidak memiliki pabrik gula.Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Gunaryo mengatakan pihaknya melihat kesiapan dan kapasitas importir.

Dia menuturkan pihaknya juga telah mengantongi sejumlah nama importir untuk diusulkan ke menteri terkait untuk menjadi pelaku impor gula kasar.

Jumat lalu, pemerintah memang melakukan rapat koordinasi antarkementerian guna memilih nama-nama importir yang dinilai siap melakukan impor gula kasar.

Seperti diketahui, pemerintah menyetujui usulan Dewan Gula Indonesia melakukan impor gula kasar sebanyak paling banyak 240.000 ton untuk memenuhi kekurangan gula konsumsi sebanyak 220.000 ton pada tahun ini

Namun, Gunaryo masih enggan untuk membeberkan sejumlah nama yang diusulkan dan jumlah importir yang nantinya ditunjuk.

“Dia mampu atau tidak? [jika seluruh impor gula kasar dilakukan oleh importir yang memiliki pabrik gula]. Jangan hanya diberikan izin, tapi juga harus dipastikan bahwa mampu [melakukan impor itu],” jelasnya Minggu (26/02).

Sebelumnya, Gunaryo mengatakan bisa saja gula kasar itu diproses oleh pabrik gula rafinasi, kendati pemerintah belum memutuskan hal tersebut.

Pemerintah memang harus benar-benar tepat memilih importir, karena gula kasar harus sudah mulai masuk pada Maret untuk lalu diproses menjadi gula konsumsi, guna paling telat didistribusikan Mei ke sentra konsumsi di luar Jawa.

Sementara itu, Wakil Sekjen Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Nur Khabsyin mengatakan pemerintah harus menunjuk importir yang memiliki pabrik gula agar harga bahan pemanis makanan itu tidak menjadi mahal.

“Kalau dia hanya importir, lalu akan diserahkan ke pabrik gula. Mata rantainya cukup panjang sehingga tidak efisien dari segi waktu dan membuat harga gula itu menjadi mahal. Kami sebetulnya senang saja kalau harga gula mahal, tetapi itu akan memberatkan konsumen” katanya.

Khabsyin meminta agar importir tidak hanya mengambil keuntungan dari keputusan pemerintah untuk melakukan impor gula kasar.

“Pemerintah juga harus menunjuk lembaga atau perusahaan yang bagus untuk mengatur distribusi gula tersebut. Kami khawatir gula itu bisa bocor atau didistribusikan ke wilayah barat, padahal hanya untuk wilayah timur,” jelasnya.

Menurutnya, perlu ada label atau karung khusus gula impor itu agar mempermudah pemantauan di lapangan.

“Jalur distribusi harus benar-benar diawasi karena jika terjadi kebocoran, itu akan mengganggu harga gula petani,” paparnya.

Khabsyin juga menekankan sebaiknya pemerintah tidak melakukan impor seluruh 240.000 ton gula kasar, namun juga melihat kondisi di lapangan.

“Kalau memang sudah cukup, ya impor tidak usah dilakukan hingga 240.000 ton. Impor seharusnya hanya secukupnya,” katanya. (Bsi)

Oleh Raydion
sumber http://www.bisnis.com