DPR usulkan privatisasi pabrik gula

Jumat, 24 Februari 2012 | 13:44


Anggota Komisi VI DPR RI Fahri Hamzah mengusulkan dilakukannya privatisasi pabrik gula agar kinerjanya bisa ditingkatkan, sehingga lebih baik dari sebelumnya."Jika mau realistis, privatisasi sebagian pabrik gula bisa ditempuh agar akselerasinya lebih bagus dan kinerjanya juga bisa melejit," ujarnya ketika melakukan kunjungan spesifik ke Pabrik Gula Rendeng Kudus, di Kudus, Jateng, Kamis.

Dengan kebijakan privatisasi, katanya, sumber daya manusia (SDM) diyakini bisa bekerja lebih baik dan memacu potensinya secara lebih cepat.

Menurut dia, dari sisi pengalaman pegawai di pabrik gula milik pemerintah jauh lebih baik, dibanding pegawai dari pabrik gula milik swasta.

Akan tetapi, kata dia, dari sisi kesejahteraannya, peluang akselerasi diri lebih baik pegawai swasta, karena ditunjang fasilitas dan pengembangan diri yang lebih baik.

"Sedangkan pegawai di pabrik gula milik pemerintah, tingkat kesejahteraannya masih kalah dengan swasta, sehingga mereka tidak mungkin bertahan dalam jangka lama. Bahkan, memungkinkan terjadi mobilisasi pekerja secara besar-besaran," ujarnya.

Hal tersebut, kata dia, hampir terjadi di semua industri.

Ia mengatakan, tantangan pabrik gula milik pemerintah di Tanah Air saat ini, yakni menggunakan momentum revitalisasi yang diberikan pemerintah.

"Kesempatan ini harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, minta transformasi secara besar-besaran ke Kementerian BUMN agar bisa menang lawan pabrik gula milik swasta yang lebih modern," ujarnya.

Apalagi, kata dia, pangsa pasar gula nasional yang dikuasai saat ini tinggal 60 persen, sedangkan sisanya sudah dikuasai swasta.

Jika upaya yang sedang dijalankan pemerintah saat ini tidak berhasil dan terjadi kebangkrutan, dia memprediksi, akan muncul opsi terakhir.

Terkait dengan usulan privatisasi, Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Agus Hermanto memiliki pendapat berbeda, bahwa usulan tersebut masih harus melalui proses yang panjang, sedangkan yang ada sekarang adalah program revitalisasi.

Anggota Komisi VI DPR RI Abdul Wachid menambahkan, bahan baku tebu di wilayah Kudus, Jepara dan Pati sebetulnya cukup tersedia dan petani bebas memilih dalam menjualnya.

Akan tetapi, kata dia, untuk menarik minat petani menjual tebu ke PG Rendeng, tentunya harus diimbangi dengan pelayanan yang memuaskan serta jaminan tingkat rendemen tebu yang cukup bagus.

Seharusnya, kata dia, PG Rendeng tidak ada alasan kekurangan bahan baku, mengingat pabrik gula yang ada di Kudus, Jepara dan Pati yang juga membutuhkan bahan baku tebu mencapai 350 pabrik yang dimiliki petani kecil.

"Bahkan, kapasitas produksi PG Pakis yang dimiliki swasta maupun PG Trangkil juga ditingkatkan, bahkan lebih besar dibanding PG Rendeng yang sebelumnya paling besar," ujarnya.

Selain menuntut kinerja PG Rendeng ditingkatkan, dia juga meminta, kinerja tim kerja juga ditingkatkan agar mendapatkan hasil yang bagus, mengingat kompetisi yang terjadi semakin ketat.
(U.KR-AN/I007)

Sumber http://www.antaranews.com