APHI Minta Keran Ekspor Log Kayu Dibuka

Kamis, 10 November 2011 | 09:21


ASOSIASI Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) meminta kementerian industri dan kehutanan untuk membuka kembali kran ekspor "sawn timber" (kayu gergajian) dan log kayu. Hal ini dilakukan agar perusahaan di sektor hulu kehutanan bisa bertahan dengan memperoleh nilai tambah lebih tinggi."Pengusaha di sektor hulu bisa memperoleh harga sampai US$1000 per meter kubik untuk 'sawn timber' grade A dibandingkan jika kayu diolah lebih lanjut menjadi kayu lapis," kata Wakil Ketua Umum APHI bidang Ekonomi Pemasaran, David, di Jakarta, Selasa (8/9).

Selama ini, kata dia, larangan yang diberlakukan pemerintah bertujuan untuk mengembangkan industri hilir. Namun, ia menilai kurang tepat karena karena pada kenyataannya kini industri hulu dan hilir di luar Jawa justru banyak yang tutup.

Untuk itu, katanya, ada kebijakan pemerintah yang harus ditinjau kembali untuk mengantisipasi kondisi pasar. “Upaya memanfaatkan kebutuhan pasar internasional harus dilakukan karena pengusaha justru bisa memperoleh US$300 untuk setiap meter kubik kayu meranti yang diekspor, sedangkan di pasar lokal hanya dihargai US$150 per meter kubik,” kata David.

Dia juga meminta pemerintah dan semua pihak untuk mencontoh sektor kehutanan di China dan Malaysia yang saat ini sudah lebih maju dalam menguasai pasar ekspor dunia. "China yang tahun 1991 baru mengekspor satu juta meter kubik produk panel kayu tahun 2009 sudah mampu mengapalkan 120 juta meter kubik produk tersebut. Tahun lalu, mereka kembali mampu mendongkrak ekspor panel kayu sampai 150 juta meter kubik," kata dia.

Sebaliknya, kata David, ekspor panel kayu Indoensia yang tahun 1991 mencapai 10 juta meter kubik, tahun 2009 sampai tahun lalu merosot menjadi hanya tiga juta meter kubik.

Sementara Finlandia hanya mampu menghasilkan kayu empat meter kubik untuk setiap hektarenya dan China baru menghasilkan 30 meter kubik setelah melakukan berbagai riset, katanya. "Ini harus dimanfaatkan agar usaha kehutanan bisa kembali menjadi sektor yag kembali diperhitungkan," kata dia

David mengatakan bahwa Indonesia cukup memiliki 14 juta hektare hutan tanaman industri untuk bisa menjadi pemain utama dunia dalam produksi kayu olahan. Dengan 14 juta hektare HTI itu, katanya menjelaskan, Indonesia dalam sepuluh tahun bisa memperoleh pasokan bahan baku kayu lestari sebesar 362,5 juta meter kubik dan nilai devisa yang bisa dihasilkan bisa mencapai US$70 miliar.

Penulis: Tria Dianti
Sumber Berita : http://www.jurnas.com