RENCANA PELARANGAN EKSPOR ROTAN

Kamis, 10 November 2011 | 09:17


Industri Agro Kementerian Perindustrian, Benny Wahyudi, bilang, para eksportir rotan mengaku, ada sekitar 600.000 ton rotan menumpuk. Ini mereka tengarai akibat rencana penghentian ekspor rotan oleh Kementerian Perdagangan (Kemendag).Selain itu, eksportir rotan pun melansir data ekspor rotan pada 2010 sekitar 22.000 ton. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) meragukan data tersebut. Sebab, ekspor rotan dari setiap daerah dibatasi jumlah kayu yang dapat dipungut dalam suatu jangka waktu tertentu (annual allowable cut/AAC).

"Jadi kalau ekspornya melebihi AAC cukup mengherankan juga," ungkap Dirjen Industri Agro Kementerian Perindustrian Benny Wahyudi, usai pembukaan pameran produk furnitur, Selasa (8/11).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor rotan total dari 10 provinsi tercatat sebesar 32.844,98 ton dengan nilai US$ 32,219 juta. Ekspor terbesar berasal dari Kalimantan Selatan (Kalsel) sekitar 22.056,79 ton.

Namun, Kalimantan Selatan sebagai daerah pengekspor terbesar hanya memiliki AAC sebesar 7.045,80 ton kering per tahun. Dengan demikian Kalsel seharusnya hanya boleh mengekspor 7.045,80 ton dikali 35% (potensi susutan akibat pencucian/pemotongan). "Jadi aneh juga kalau AAC 7.000 ton, tapi ekspornya bisa 22.000 sekian ton," ucapnya.

Indonesia memiliki potensi menghasilkan rotan mentah sebanyak 210.000 ton per tahun. Jumlah itu susut 50% setelah mengalami proses penggorengan/pengeringan menjadi 105.000 ton sebagai rotan asalan.

Apabila, rotan menjalani proses poles maka jumlah turun lagi menjadi sekitar 70% dari 105.000 ton itu. "Kalau diolah lagi menjadi furnitur banyak yang harus dibuang sekitar 10%-15%," ucapnya. Artinya, rotan yang berputar di pasar dalam negeri dan ekspor seharusnya hanya sekitar 73.500 ton.

Direktur Industri Pengolahan Hasil Hutan dan Perkebunan Ditjen Industri Agro Kementerian Perindustrian Yuwono, menambahkan, volume ekspor ditambah kebutuhan dalam negeri tercatat sebesar 63.000 ton.

Angka ekspor rotan hanya tercatat sebesar 32.000 ton dengan harga penjualan sekitar US$ 1 per kilogram (kg),". Itu pun hanya berbentuk rotan setengah jadi," katanya

Sumber BErita : http://industri.kontan.co.id/v2/read/1320747002/82172/Kemenperin-ragukan-data-ekspor-rotan-yang-dilansir-eksportir-