Sucofindo bekerjasama dengan Unilever melakukan survei pada 2010 terhadap 300 sumber Air rumah Tangga

Jumat, 28 Oktober 2011 | 08:06


AIR sebagai salah satu sumber kehidupan memiliki peran penting bagi seseorang. Ketika air yang diminum terkontaminasi bakteri, maka ancaman berbagai penyakit pun mengintai.Dari manakah sumber air minum Anda selama ini? Apakah berasal dari air tanah ataukah air PAM? Ya, baik air tanah ataupun PAM yang paling banyak digunakan masyarakat Jakarta pada umumnya, nyatanya tidaklah memberikan keamanan sebanyak 100 persen.

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Unilever bekerja sama dengan Sucofindo yang telah dilakukan pada 2010 terhadap 300 sumber air rumah tangga di wilayah Jabodetabek dan Bandung menemukan bahwa sebagian air tanah di daerah tersebut tidak layak digunakan.

"Ada sekira 48 persen air tanah di Jabodetabek dan Bandung mengandung coliform dan 50 persen air tanah berada pada tingkat pH yang rendah di luar ambang batas wajar," tutur Erwin Cahaya Adi selaku Senior Brand Manager Unilever Pureit pada acara “Seminar & Edukasi Air Minum Aman bagi Masyarakat DKI Jakarta” di Upper Room, Hotel Nikko, Jakarta, Rabu (26/10/2011).

Jika dibiarkan, keberadaan air minum yang tercemar dapat menimbulkan risiko berbagai penyakit, di antaranya diare, thypus, kolera, disentri, hepatitis A, dan lain-lain bagi yang mengonsumsinya.

Dr Budi Haryanto SKM MKM MSc dari Departemen Kesehatan Lingkungan Fakultas Masyarakat Universitas Indonesia pada kesempatan yang sama mengatakan, cakupan air minum pada 2007 masih 49 persen, sisanya bergantung pada sumber air minum dari air permukaan, air sumur gali, air sungai, dan air hujan yang tidak terlindungi di mana sebagian besar tercemar koli tinja (USAID 2008).

Tak hanya itu, pada 2008, sebanyak 100 persen sampel air bersih di DKI Jakarta, Kota Bekasi, Kabupaten Bogor, dan 50 persen Kabupaten Bekasi, serta 26 persen Kota Cilegon terkontaminasi bakteri coliform. Sementara itu, 5-57 persen sampel air minum di DKI Jakarta, 0-55 persen di Bogor, Bekasi, Tanggerang, dan Cilegon terkontaminasi bakteri coliform dan koli tinja.

Ditambahkan Dr Budi, penularan kualitas sumber air minum terjadi melalui mekanisme fecal-oral, yakni bawaan virus, bawaan bakteri, dan bawaan logam berat.

Dengan kondisi tersebut, masyarakat pun perlu lebih selektif dalam memilih air minum yang aman bagi kesehatan mereka.

Guna mengatasi permasalahan tersebut, berbagai upaya pun terus digalakkan.

"Kami melakukan sosialisasi tentang PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat), pembinaan terhadap penyedia air bersih (PAM, APDAMINDO, masyarakat, perlindungan terhadap mata air, penerapan teknologi tepat guna tentang penyehatan air. Khususnya cuci tangan, kebiasaan ini dapat menyingkirkan 10-20 penyakit," tutup dr IBN Banjar MKM selaku Kepala Bidang Pengendalian Masalah Kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta.
(tty)

Sumber Berita : http://cybermed.cbn.net.id