Revisi aturan ekspor rotan hindarkan disalokasi bahan baku

Rabu, 26 Oktober 2011 | 07:03


Revisi aturan ekpor rotan akan difokuskan untuk maksimalisasi nilai tambah bahan baku tersebut bagi pertumbuhan industri dalam negeri.Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengatakan ekspor rotan harus diatur agar tidak terjadi disalokasi bahan baku yang merugikan industri pengolahan dalam negeri.

Industri pengolahan rotan, jelasnya, harus diberdayakan karena mampu memberikan nilai tambah lebih besar pada perekonomian nasional.

“Kami akan ambil sikap dalam waktu dekat, kebijakan apa yang diambil supaya tidak terjadi disalokasi agar kawan-kawan [industri mebel rotan] bisa diberdayakan,” kata Gita,  hari ini.

Permendag no.36/2009 mengizinkan ekspor bahan baku rotan budidaya hingga 25.000 ton per tahun dan rotan setengah jadi hingga 10.000 ton setiap tahun oleh pemegang izin Eksportir Terdaftar Rotan (ETR).

Peraturan menteri tersebut habis masa berlakunya pada 11 Agustus 2011, namun kemudian diputuskan untuk diperpanjang melalui Permendag no. 28/2011 hingga masa berlaku aturan ekspor rotan diperlama sampai 31 Desember 2011.

Mendag menjelaskan pemerintah, di antaranya, sedang mengkaji dampak besaran kuota ekspor rotan yang saat ini sebanyak 30.000 – 35.000 ton per tahun pada kinerja industri rotan hilir.

“Yang dikirim ke luar negeri memang tidak besar dibanding yang digunakan di Indonesia, tapi harus ditelaah lebih dalam lagi [pengaruhnya pada industri dalam negeri],” papar Gita.(api)

Oleh Demis Rizky Gosta
Sumber Berita : http://www.bisnis.com/