Bulog Deal Impor Beras Premium 100.000 Ton dari Thailand

Jumat, 07 Oktober 2011 | 13:33


Perum Bulog menyatakan awal Oktober ini akan merealisasikan impor beras dengan kualitas premium (5% broken) dari Thailand sebanyak 100.000 ton dalam konteks business to business (b to b).Bulog masih mengusahakan proses negosiasi impor beras secara antar pemerintah (g to g) yang sebelumnya sempat dibatalkan sipihak oleh Thailand.

Direktur Utama Perum Bulog Sutarto Alimoeso menyatakan selain mengimpor beras dengan kualitas medium (15% broken), Bulog juga mengimpor beras premium melalui tender.

"(Kontrak) ini sudah deal tadi malam, dan penandatanganan kontrak rencananya hari ini. Ini business to bussines. Mudah-mudahan minggu depan bisa masuk," ujarnya seusai rakor pangan di kantor Menko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Kamis (6/10/2011).

Menurut Sutarto, beras premium ini digunakan untuk memperkuat cadangan beras bulog. Nantinya, jika Bulog perlu melakukan intervensi, pihaknya akan mengeluarkan cadangan beras tersebut.

Sutarto menyebutkan dari total izin impor yang diberikan pemerintah sebanyak 1,6 juta ton, Bulog telah menandatangani kontrak untuk 900 ribu ton yang terdiri dari sebanyak 500.000 ton ditandatangani Agustus lalu, dan 400.000 ton yang kontraknya ditandatangani pada awal September lalu. Dari total beras impor yang sudah kontrak,

"Hingga saat ini beras yang sudah masuk ke Indonesia sudah lebih dari 400.000 ton," ujarnya.

Selain kontrak beras yang sudah ditandatangani sebesar 900.000 ton dari Vietnam, Sutarto menyatakan akan kembali melakukan pembicaraan dengan Thailand mengenai pembatalan kontrak impor beras yang sudah diteken sebelumnya sebanyak 300.000 ton. Pasalnya, hingga saat ini Bulog belum menerima surat pemberitahuan resmi dari Thailand mengenai pembatalan kontrak ini.

Ia menambahkan Indonesia masih mempertanyakan komitmen dari Thailand untuk kesepakatan impor beras premium yang dalam perjanjian antara pemerintah (G to G). Bulog juga tetap mencari alternatif impor jika Thailand betul-betul membatalkan kesepakatan impornya.

"Kita tidak boleh ambil risiko, beras harus ada. Kita sudah berhitung dengan betul. Dan semua (impor) harus selesai sesuai dengan penugasan akhir Februari," ungkapnya.

Di luar itu, bersamaan dengan kontrak beras dari vietnam tahap II yang sebesar 400.000 ton, Bulog sudah membicarakan rencana impor beras sebanyak 300.000 ton yang sudah hampir tuntas. Jika ditambah dengan 100 ribu ton beras premium dari Thailand yang sudah diteken hari ini, maka ada tambahan baru.

"Kalau total, sesuai dengan penugasan 1,6 juta ton, pemenuhannya seperti itu," tandasnya.


Sumber Berita : http://finance.detik.com