Impor gula diperbesar jadi 2,6 juta ton

Kamis, 18 Agustus 2011 | 08:20


Indonesia meningkatkan impor gula menjadi sebanyak 2,6 juta ton, menyalip Rusia sebagai pembeli terbesar ketiga setelah AS dan Eropa.Sementara China membeli 2,5 juta ton selama setahun dimulai pada Oktober, melebihi kuota impor normal yang sebanyak 1,9 juta ton.

Direktur Eksekutif International Sugar Organization (ISO) Peter Baron mengatakan pasar global mungkin memiliki melonjak sampai 30 sen. Berbagai jenis bahan baku rata-rata hanya 12,78 sen di New York selama lebih dari 10 tahun, namun berakhir hingga di level 27,84 sen pada 12 Agustus lalu.

Saat ini, harga gula dunia berkisar antara 23 sen hingga 28 sen per pon seperti di China, pengguna terbesar kedua di dunia. Organisasi Gula Internasional melaporkan, impor Indonesia terus meningkat, surplus global mengalir hingga 4 juta metrik ton.

Sebelumnya, Ketua Asosiasi Gula Indonesia Faruk Bakrie mengungkapkan Indonesia diperkirakan membeli 2,8 juta ton gula, dari tahun sebelumnya yang hanya 2,482 juta ton. Perkiraan tersebut lebih besar dibandingkan laporan ISO.

Tingginya harga gula dapat membawa pengaruh Bank Sentral dan pembuat kebijakan untuk mendinginkan inflasi global. Harga gula, jagung, dan minyak goreng membantu mendorong indeks harga pangan PBB menuju rekor pada Februari, sementara pada Juni indeks berada nyaris  di level tertinggi, dan berpotensial memperburuk kondisi Bank Sentral dengan kehilangan US$1,1 miliar.

“Bahkan surplus ini mungkin tidak cukup diperoleh para importir untuk mengisi persediaan mereka, tanpa meningkatkan harga lebih jauh,” kata Baron.

Berbagai jenis bahan baku telah naik 36% dari Mei tahun lalu, akibat kekhawatiran bahwa produksi Brazil yang mewakili sekitar setengah dari ekspor global menurun lebih dari perkiraan.

Asosiasi Industri Gula dan Tebu Sao Paolo melaporkan lahan penghasil gula di Brasil Selatan, daerah penghasil gula terbesar di dunia, hanya menghasilkan 31,6 juta ton pada 13 Juli lalu dari estimasi sebelumnya sebesar 32,4 juta ton.

ISO melaporkan 4 juta ton surplus termasuk penurunan produksi di Brasil menjadi 38,5 juta ton dari sebelumnya sekitar 40 juta ton, dan peningkatan panen di Thailand dan India yang membantu memenuhi peningkatan permintaan impor dari negara pengekspor untuk membangun kembali stoknya.

Ekonom Senior ISO Sergey Gudoshnikov mengatakan persediaan gula global akan membutuhkan dua tahun untuk proses membangun surplus kembali setelah permintaan melampaui pasokan dalam dua musim terakhir. Lahan yang lebih kecil pada musim 2008-2009 dan 2009-2010 meninggalkan defisit sebanyak 15 juta ton.

ISO — organisasi pertama yang mengeluarkan standarisasi persediaan dan permintaan dari 150 negara– membandingkan dengan prediksi 9,8 juta on dari Rabobank Internasional, 5 juta ton dari Macquarie Group Ltd, dan 10,3 juta ton dari Czarnikow Sugar Futures Ltd.

Hasil produksi Thailand merosot dari rekor sebelumnya 9,64 juta ton menjadi 9,5 juta ton pada tahun ini dari November.

Direktur Kantor Dewan Gula dan Tebu Rangsit Hiangrat mengatakan hal itu terjadi setelah hujan dan banjir yang berlebihan di beberapa wilayah di Thailand, dan cuaca kering yang ekstrim di bagian lain, memotong hasil tebu di wilayah tersebut.

Sementara itu, India sebagai produsen gula terbesar kedua dapat meningkatkan hasil panennya menjadi 26 juta ton pada musim 2011-2012 ini, dari produksi sebelumnya 24,2 juta ton. Demikian disampaikan Direktur Jenderal Indian Sugar Mills Association Abinash Verma.

Negara ini mungkin memiliki surplus 4 juta ton dan jumlah besar dapat diekspor sebagai produsen pencari keuntungan terbesar setelah harga lokal jatuh di bawah tingkat rata-rata internasional. (fsi)


Sumber Berita : http://bisnis-jabar.com