Staf Bea Cukai Loloskan 1.625 Ton Gula Selundupan

Jumat, 29 Juli 2011 | 13:04


Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Dit Reskrimsus) Polda Sumut menetapkan dua staf Kantor Pelayan Bea Cukai (BC) Belawan tersangka penyelundupan gula dari India. Kedua tersangka adalah Ospaldo dan Syahrial, staf Penindakan dan Penyidikan (P2) Bea Cukai Belawan.
"Oknum petugas Bea Cukai Belawan kita tetapkan tersangka penyelundupan gula India sebanyak 1.625 ton. Tapi akan kita dalami lagi," ujar Direskrimsus Polda Sumut Kombes
Sadono Budi Nugroho kepada wartawan, Kamis (28/7/2011).

Sadono memaparkan keterlibatan kedua tersangka adalah  memalsukan surat berupa Berita Acara penyegelan dan pembukaan segel, sehingga 250 ton gula sudah sempat dijual importir, PPI.

"Faktanya mereka tidak pernah melakukan pengecekan gula impor yang disimpan di dalam gudang. Akibat perbuatan mereka, pihak PPI selaku importir bisa mengalihkan gula sebanyak 250 ton yang sempat disimpan di Gudang KIM II ke pihak lain," beber Sadono.

Tindakan mereka diketahui setelah dilakukan verifikasi dan keterangan Sucofindo Cabang Medan. Sadono mengatakan Ospaldo dan Syahrial belum ditahan  penahanan karena masih perlu pendalaman.

"Kita masih dalami termasuk keterlibatan pihak importir PPI," sebutnya.

Sadono mengatakan tidak tertutup kemungkinan tersangka bertambah, terutama dari pihak importir. Dia mengatakan, pada 10 Mei 2011 lalu, Satuan Ekonomi Dit Reskrimsus Polda Sumut mengamankan ribuan ton gula pasir diduga selundupan yang disimpan di Gugang 38 dan 48 Jalan Tanjung Mulia, Kelurahan Mabar, Kecamatan Medan Labuhan.

"Awalnya, kita jalan-jalan ke gudang tersebut dan kebetulan kita melihat gula baru datang, lalu kita selidiki, ternyata milik PPI. Namun pihak PPI tidak mampu memperlihatkan dokumen resmi dari Disperindag," katanya.

Selanjutnya, diberi garis polisi (police line) sambil melakukan penyelidikan. Terakhir diketahui pula, selain disimpan di gudang 38 dan 48, di gudang KIM II juga ada disimpan sebanyak 250 ton. Namun setelah dicek, gula dimaksud sudah sempat dijual. "Hanya 1.625 ton (65 Kontainer) gula yang berhasil kita sita, digudang No 38 dan No.48," katanya.

Mantan penyidik Money Laundring Bareskrim Mabes Polri itu mengatakan setelah Dirjen Kemen Perindag dan PPI dimintai keterangan, diketahui bahwa izin impor PPI sudah berakhir April 2011. Padahal gula baru dibongkar dari kapal dipelabuhan Belawan pada Mei 2011.

"Masa berlaku izin importir PPI sudah habis sejak April 2011 sedangkan gula masuk Mei 2011, sehingga gula itu tanpa dokumen sah alias illegal," kata Sadono.

Bersamaan dengan dilakukannya penyitaan gula milik PPI di gudang No 48, kebetulan pula ada tumpukan gula yang diketahui milik PTPN 10. Namun setelah dilakukan penyelidikan, ternyata izin importir PTPN 10 resmi dan masih berlaku sehingga tindak lanjut penyelidikan tidak dilakukan.

"Izin importir PTPN 10 resmi dan dokumennya lengkap sehingga gula itu tidak kita tahan," ujar Sadono.

Sumber Berita : http://www.tribunnews.com