Indonesia berbenah jadi pusat sertifikasi halal dunia

Rabu, 27 Juli 2011 | 14:10


Indonesia dengan keunggulan populasi penduduk terbesar posisi empat dunia tengah berbenah diri menjadi pusat sertifikasi produk dunia sekaligus mengambilalih predikat tersebut dari negara-negara muslim seperti di kawasan Timur Tengah.Emilia Suhaimi, Asisten Deputi Urusan Produktivitas dan Mutu Kementerian Koperasi dan UKM, mengatakan negara-negara di Timur Tengah, sudah mempercayai Indonesia menjadi kiblat manajemen produk  halal.

”Itu sebabnya, Indonesia tengah mempersiapkan diri menjadi kiblat sertifikasi produk halal kuliner seluruh dunia. Kenapa tidak di Negara-negara kawasan Arab, karena kita unggul dalam populasi penduduk,” ujar Emilia Suhaimi kepada Bisnis, hari ini.

Tekad menjadi negara pusat sertifikat halal produk kuliner dunia, juga didukung oleh berpengalaman menjadi tuan rumah penyelanggara pendidikan sertifikasi halal bagi pejabat negara muslim yang memiliki otoritas kebijakan.

Menurut dia, dalam kontkes perdagangan internasional, penerapan label halal dan sertifikasi halal merupakan hal strategis sebagai salah satu mekanisme pertahanan yang disetujui badan perdagangan dunia (WTO) sebagai sistem meningkatkan daya saing produk yang berasal dari negara-negara muslim.

Dengan maksud tersebut, Kementerian Koperasi dan UKM bersama instansi terkait lain seperti  Kementerian Kesehatan, secara kontinyu melakukan sosialisasi kepada masyarakat usaha kecil menengah (UKM) sebagai konsumen maupun produsen.

Penerapan kehalalan produk menjadi kebutuhan setiap masyarakat muslim, karena pangan yang baik tidak hanya dilihat dari kandungan gizinya, tetapi meliputi kehalalannya. Pemerintah bahkan telah mengeluarkan ketentuan penerapan sertifikasi halal.

Yakni, Surat Keputusan Menteri Agama Nomor 518 Tahun 2001 tentang pedoman dan tata cara pemeriksaan dan penetapan halal.

”Banyak Negara-negara di Asia Timur dan Timur Tengah telah mempercayai Indonesia sebagai kiblat manajemen produk halal. Demean jumlah penduduk 238 juta, merupakan populasi Negara musllim terbesar dunia.”

Karena itu layak menjadi pusat sertifikasi halal dunia, sebab dari 238 juta, sekitar 200 juta merupakan pasar potensial bagi produk halal kuliner. MEnurut Emilia, Event Director Foo Ingredients Asia, Vincent Brain, Indonesia adalah konsumen makanan terbesar di Asia Tenggara, sekitar 51%.

Oleh karena itu pemerintah dan dunia usaha harus bisa menyediakan pangan dalam jumlahbesar, baik dalam produk segar mau[pun olahan yang dihasilkan sektor industri dalam negeri. Di Indonesia, pelaku industri pangan digeluti sekitar 12 juta pelaku usaha kecil menengah.

Pentingnya Indonesia menjadi pusat sertifikasi produk halal dunia, karena menurut laporan Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) , pasar dunia produk halal kini mencapai US$2,3 triliun.

”Angka tersebut belum termasuk bisnis perbankan berbasis syariah. Pasar ini tumbuh seiring pertumbungan pasar produk halal di Eropa, Australia, dan Amerika Utara,” tutur Emilia Suhaimi. (faa)


Oleh Mulia Ginting Munthe
Sumber Berita : http://www.bisnis.com