RI Belum Punya Standar Pemakaian Merkuri Industri Lampu

Kamis, 23 Juni 2011 | 07:37


Indonesia belum memiliki peraturan untuk penetapan batas maksimum zat merkuri (air raksa) yang terdapat pada produk lampu. Padahal, lampu yang memiliki zat merkuri yang berlebihan akan merusak lingkungan nantinya setelah lampu tidak terpakai.Demikian disampaikan Ketua Umum Asosiasi Luminer dan Kelistrikan Indonesia (AILKI) Sjahriza Manaf ketika dihubungi detikFinance Selasa (21/6/2011).

"Kita belum punya standar pemakaian merkuri, belum diatur ambang batasnya. Kalau lampunya sudah mati terus dibuang bisa bahaya kalau pecah, siapa yang menjamin lampu itu tidak pecah," ujarnya.

Menurut Sjahriza, batas atas penggunaan merkuri untuk sebuah lampu seharusnya hanya 5 mg (miligram). Saat ini, masih banyak industri yang menggunakannya di atas batas.

"Kalau menurut saya, batas maksimumnya 5 miligram saja," tuturnya.

Penggunaan zat merkuri yang berlebihan, kata Sjahriza, sebenarnya memiliki banyak keuntungan di awal penggunaan lampu, misalnya lampu dapat menyala lebih cepat dan lebih terang. Namun, apabila lampu pecah, akan sangat berbahaya bagi lingkungan nantinya.

"Ya kalau pakai lebih banyak, nyala pertamanya cepat, terus bisa lebih terang juga. Ya tapi itu tadi berbahaya," jelasnya.

Sjahriza menambahkan, pemerintah Australia saja bersedia mengeluarkan uang sebesar US$ 2 juta untuk melakukan pengawasan lampu yang beredar di pasaran. Hal ini bertujuan agar lampu-lampu yang beredar memiliki kualitas yang bagus.

"Australia itu buat ngawas, mereka membutuhkan dana US$ 2 juta. Mereka mengharapkan barang yang beredar itu bagus," pungkasnya.

Sumber Berita : http://finance.detik.com