Gula Rafinasi Berpotensi Merembes 600 ribu Ton

Senin, 20 Juni 2011 | 13:24


Proses audit yang terlalu lama bakal berpotensi pada perembesan gula rafinasi dalam jumlah lebih besar. Sebelum ini, Kementerian Perdagangan berencana melakukan audit terhadap delapan industri gula rafinasi.Audit tersebut sebagai respons atas keluhan mengenai ditemukannya gula rafinasi di tingkat konsumen. Ditargetkan, hasil audit akan keluar pada dua bulan lagi.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perdagangan, Distribusi, dan Logistik Natsir Mansyur mengatakan proses audit yang akan dilakukan pemerintah terbilang lama. "Raw sugar tersebut disiapkan untuk menghadapi lebaran. Artinya, mereka sudah order dua bulan lalu dan akan di-delivery bulan-bulan ini. Nah kalau audit perlu dua bulan, itu terlalu lama," ucap dia pekan lalu.

Disebutkan, potensi gula rafinasi yang merembes dapat dihitung dari kuota impor raw sugar tahun ini. Total jatah untuk delapan gula rafinasi tersebut sejumlah 2,4 juta ton. Namun, daya serap industri pengguna yang tidak sebanding dengan kemampuan produksi membuat gula berpotensi menyerap. Diperkirakan gula yang tidak terserap 25 persen dari produksi atau mencapai 600 ribu ton.

Dia pesimistis pasca audit dapat menjamin gula rafinasi tidak merembes. Karena, bukti perembesan sudah terjadi sejak dua tahun lalu tapi sampai kini masih terjadi. "Padahal, dulu mereka (industri gula rafinasi, red) sudah membuat pernyataan agar tidak merembes. Nyatanya, masih dijual di pasaran. Karena harganya murah juga sih," tandas Natsir.

Ditambah, sebelum ini pemerintah pernah memberikan punishment sebagai efek jera. Yakni, mengurangi kuota impor bagi industri yang menyalahi aturan. Akan tetapi, lanjut dia, punishment tersebut dinilai tidak efektif. "Tahun lalu DPR sudah mengingatkan mengenai hal itu, tapi sampai sekarang punishment tersebut mana," katanya.

Dicontohkannya, pabrik gula rafinasi di Sulawesi memiliki kemampuan produksi sebesar 500 ribu. Namun, daya serap industri pengguna hanya 150 ribu, sehingga ada kelebihan produksi sejumlah 35o ribu ton. "Nah, sisanya ini dikemanakan. Karena, begitu gula petani dijual, ternyata gula rafinasi sudah nongkrong di pasaran tentu itu merugikan," kata dia. (res/kim)

Sumber Berita : http://www.jpnn.com/