Industri Sawit Diminta Tingkatkan Produksi

Selasa, 14 Juni 2011 | 11:14


Industri sawit Indonesia diminta meningkatkan kapasitas produksinya untuk meningkatkan daya saing di pasar internasional.Hal ini penting setelah dikeluarkannya Instruksi Presiden No 10/2011 tentang Penundaan Pemberian Izin Baru dan Penyempurnaan Tata Kelola Hutan Alam Primer dan Lahan Gambut. Kepala Sekretariat Dewan Perubahan Iklim Nasional Agus Purnomo menyatakan selama ini memang ada sejumlah pihak menganggap moratorium lahan gambut akan memengaruhi ekspansi industri sawit karena tidak bisa berekspansi. Namun, kata dia, untuk meningkatkan daya saing industri sawit bukan hanya dengan memperluas lahan.

”Membuka lahan hanya akan menimbulkan masalah baru karena terkait perubahan iklim global.Kalangan industri sawit harus meningkatkan kapasitas produksi. Kapasitas produksi kita masih kalah dengan Malaysia. Mereka bisa tiga kali lipat dari Indonesia dengan luasan yang sama,” kata Agus di sela-sela World Economic Forum on East Asia (WEFEA) di Jakarta kemarin.

Chairman dan Chief Executive Officer (CEO) Sinar Mas Agribusiness and Food Franky Oesman Widjaya mengatakan, industri kelapa sawit siap berkomitmen mendukung program pemerintah, asal ada aturan yang jelas dalam pelaksanaannya. Selain itu, industri sawit juga mendukung program pertanian berkelanjutan seperti yang diluncurkan pemerintah pada hari pertama pelaksanaan WEF.

Dalam program tersebut, industri sawit akan memberdayakan masyarakat dengan meningkatkan kapasitas individual perusahaan untuk meningkatkan produktivitas lahan pertanian. ”Industri sawit kita ada 42% lahannya adalah milik usaha rakyat atau plasma. Ini yang akan kita genjot produksinya dari semula 2–3 ton per hektare (ha) menjadi 5 ton per ha,”kata Franky, yang juga Wakil Ketua Bidang Agrobisnis,Pangan dan Peternakan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia.

Dalam mengembangkan industri sawit berbasis petani kecil,Sinar Mas mendorong petani sawit yang belum menjadi anggota koperasi, agar bergabung dengan salah satu koperasi yang ada. Hal ini perlu untuk menyeragamkan penggunaan faktor-faktor produksi agar mereka mendapatkan keuntungan seperti yang dirasakan produsen sawit berskala besar.

Di bagian lain,Agus menyatakan saat ini pemerintah sedang membuat peta peruntukan lahan yang berguna bagi investor jika ingin melakukan ekspansi. Peta tersebut nantinya bisa diunduh dari internet, sehingga setiap calon investor bisa langsung mengetahui daerahdaerah mana yang bisa dimanfaatkan lahannya tanpa mengganggu hutan yang dilindungi. ● yanto kusdiantono

Sumber Berita : http://www.seputar-indonesia.com