12,5% Bubuk kakao yang beredar palsu

Senin, 06 Juni 2011 | 12:55


Asosiasi Industri Kakao Indonesia (AIKI) memperkirakan sekitar 5.000 ton dari 40.000 ton bubuk kakao yang dikonsumsi di dalam negeri per tahun merupakan bubuk kakao palsu yang sebagian besarnya diproduksi di dalam negeri.Kalangan pengusaha makanan dan minuman yang merupakan konsumen utama bubuk kakao menilai pengawasan yang dilakukan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) kurang ketat.

Padahal, Kementerian Perindustrian telah menetapkan standar nasional Indonesia (SNI) wajib untuk bubuk kakao tersebut sejak 2009.

Ketua Umum AIKI Piter Jasman mengatakan total konsumsi bubuk kakao dalam negeri kini mencapai sekitar 40.000 ton per tahun, dari total produksi industri pengolahan kakao dalam negeri yang mencapai 280.000 ton per tahun.

Namun, Piter mengungkapkan dari total bubuk kakao yang dikonsumsi masyarakat dan industri nasional, terdapat sekitar 5.000 ton atau 12,5% di antaranya merupakan bubuk kakao palsu yang membahayakan kesehatan masyarakat.

“Perkiraan kami peredaran bubuk kakao palsu itu mencapai 12,5% dari total konsumsi bubuk kakao dalam negeri, yaitu sekitar 5.000 ton per tahun. Hal ini karena dipicu oleh murahnya harga sehingga menarik bagi konsumen kendati berbahaya,” katanya hari ini.

Piter mengungkapkan umumnya produsen bubuk kakao palsu tersebut berasal dari industri rumahan di dalam negeri karena sejak berlakunya SNI wajib bubuk kakao pada 2009, masuknya komoditas palsu dari pasar impor jauh menyusut. (api)

Oleh Rudi Ariffianto

Sumber Berita : http://www.bisnis.com/