2012, Dana Restrukturisasi Mesin TPT Rp250 Miliar

Rabu, 01 Juni 2011 | 10:44


Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) memproyeksikan program restrukturisasi mesin tekstil dan produk tekstil (TPT) 2012 membutuhkan dana lebih dari Rp250 miliar.Pasalnya, dalam pelaksanaannya yang memasuki tahun keenam dan ketujuh, program itu semakin diminati oleh perusahaan TPT nasional. Selain itu, program itu diakui mampu mendongkrak ekspansi kapasitas oleh industri TPT nasional.

Ketua Umum API Ade Sudrajat Usman mengatakan, pelaksanaan tahun kelima program restrukturisasi mesin TPT mulai memasuki puncaknya. Di sisi lain, keterbatasan anggaran pada 2011 tidak serta merta menyebabkan perusahaan TPT membatalkan ekspansi. Hanya saja, ujar dia, harus mengganti jadwal kedatangan mesin agar bisa ikut dalam alokasi anggaran 2012.

“Alokasi anggaran untuk tahun ini memang kurang memadai. Padahal, investasi di sektor TPT 2011 bisa mencapai Rp3 triliun. Dibandingkan, total investasi selama empat tahun terakhir hingga 2010 hanya sekira Rp6 triliun. Memang, di tahun pertama, dana yang dialokasikan besar, tapi minatnya rendah," jelas Ade di Jakarta, Senin (30/5/2011).

Tapi, lanjutnya, saat ini, peminat program restrukturisasi mesin TPT tinggi. "Dengan dana rendah. Ini harus diantisipasi pada anggaran tahun 2012. Setidaknya, dibutuhkan alokasi lebih dari Rp 250 miliar untuk program restrukturisasi mesin TPT ini di tahun keenamnya (2012),” jelas Ade.

Menurut dia, hal itu seiring dengan lonjakan alokasi order dari sebelumnya ke China menjadi ke Asean. Saat ini, kata Ade, sekitar 20 persen order ke China dialihkan ke ASEAN, termasuk Indonesia.

"Di Vietnam, sektor ini sudah mulai jenuh. Sedangkan, di Kamboja dengan jumlah penduduk sekira enam juta orang, ada masalah keterbatasan tenaga kerja. Padahal di sana, setiap 10 hari ada pabrik baru. Indonesia tentu jadi pilihan. Karena itu, perusahaan TPT mulai melakukan investasi,” paparnya.

Ade menambahkan, investasi di sektor TPT nasional tidak hanya dilakukan oleh perusahaan lokal, tetapi juga asing. Sementara itu, lanjut dia, sektor perbankan nasional mulai bergairah membiayai investasi dan pertumbuhan ekspansi di sektor TPT.

“Perbankan mulai antusias mendorong investasi industri TPT. Ini tentu mendukung upaya penyerapan tenaga kerja sesuai yang diharapkan. Sehingga, bisa mengurangi pengangguran secara riil,” pungkas Ade.
(Sandra Karina/Koran SI/ade)

Sumber Berita : http://economy.okezone.com/