Impor Pangan Ilegal Rugikan Rp10 Triliun

Selasa, 03 Mei 2011 | 08:38


BADAN Karantina Pertanian mencatat kerugian akibat impor produk pertanian illegal mencapai Rp10 triliun per tahun. Hal ini dikarenakan masuknya hama dan penyakit produk pertanian dari produk impor yang masuk tersebut. "Karena penyakit hewan atau tanaman selain bisa menular pada manusia juga bisa mengakibatkan kerugian ekonomi kalau sampai masuk," kata Kepala Badan Karantina Pertanian Banun Harpini saat pemusnahan sejumlah produk pertanian di Bandara Soekarno Hatta, Kamis (28/4).

Pemusnahan dilakukan terhadap 4.123 sachet benih sayuran dan benih bunga asal Taiwan, 20 kg benih padi hibrida asal China, 2.350 kg cabe merah asal Vietnam, 20 kg buah buahan impor serta185 batang tanaman jeruk dan bunga. Selain produk tumbuhan, turut pula dimusnahkan sebanyak 1.433,94 kg daging premium (premium beep) asal Australia, China dan Amerika. “Total nilai impor produk pertanian tersebut kurang lebih US$234.831,5 atau lebih dari Rp2,2 miliar,” katanya.

Sebagai contoh, lanjutnya, kerugian ekonomi yangg disebabkan oleh penyakit kering alur sadap (KAS) di areal perkebunan karet di Indonesia dengan tingkat keparahan penyakit 13 persen nilainya mencapai Rp 5 triliun per tahun.

Indonesia juga memerlukan waktu hingga 100 tahun untuk bisa bebas dari penyakit mulut dan kuku (PMK) dan harus menghabiskan Rp 11 trilun hingga dinyatakan bebas pada tahun 1990.

Kepala Balai Besar Karantina Musyaffak Fauzi mengatakan pihaknya terus berusaha melakukan pencegahan terhadap 119 jenis Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK) dan 693 jenis Organisme Pengganggu Tanaman Karantina (OPTK) yang sampai saat ini belum ditemukan obatnya. "Beberapa masalah yang masih kami hadapi yakni kekurangan SDM, rendahnya ketaatan masyarakat, dan pengawasan yang masih ego-sektoral antara Bea Cukai, imigrasi, polisi, dan badan karantina," ujarnya.

Musyaffak juga mengeluhkan minimnya anggaran untuk karantina. Balai Besar Karantina Pertanian Soekarno Hatta pada 2010 mendapat anggaran Rp 21, 8 miliar dan pada 2011 turun menjadi 18, 86 miliar.

Penulis: Tria Dianti

Sumber Berita : http://www.jurnas.com/