Australia revisi UU terkait produk makanan

Selasa, 03 Mei 2011 | 08:35


Parlemen Australia menyiapkan revisi Undang-Undang yang akan mensyaratkan produk-produk makanan yang menggunakan komposisi minyak sawit sebagai bahan bakunya untuk menunjukkan label yang jujur pada kemasan produknya. Jika produk-produk makanan menggunakan komposisi minyak sawit lestari, harus dilabelkan CS palm oil yang berarti certified sustainable palm oil (minyak sawit bersertifikasi lestari). Tujuan undang-undang tersebut untuk menjamin konsumen memiliki informasi yang jelas dan akurat tentang sumber minyak sawit dalam produk-produk makanan serta mendorong penggunaan minyak sawit bersertifikasi lestari untuk mempromosikan perlindungan habitat satwa liar (wildlife habitat).

Greenomics Indonesia menilai langkah parlemen Australia tersebut bakal membuat produsen-produsen produk makanan multinasional kelabakan, mengingat hampir semua dari mereka baru akan menggunakan 100% minyak sawit lestari pada 2015 atau setelah itu.

Direktur Eksekutif Greenomics Indonesia Elfian Effendi mengatakan selama ini penggunaan minyak sawit tak lestari telah menjadi sumber bahan baku penting produk-produk makanan korporasi multinasional.

"Faktanya, selama ini citra buruk lebih sering tertempelkan pada produsen minyak sawit, terutama yang bersumber dari Indonesia," ujar Elfian kepada Bisnis hari ini.

Jika revisi UU tersebut diundangkan, lanjut Elfian, produsen produk-produk makanan multinasional yang menggunakan komposisi minyak sawit, harus melabelkan sumber minyak sawit pada produk makanannya tersebut jika ingin produk-produknya tersebut masuk pasar Australia.

Revisi UU Australia tersebut juga bakal meningkatkan permintaan minyak sawit bersertifikasi lestari. Saat ini, menurut Elfian, permintaan korporasi multinasional terhadap minyak sawit lestari masih rendah, karena tidak semua minyak sawit bersertifikasi lestari diserap oleh korporasi multinasional. Jika UU ini diteken, ulas Elfian, berarti korporasi multinasional yang memasok produk-produk makanannya ke Australia, tentu bakal meningkatkan permintaan minyak sawit bersertifikasi lestari.

"Tentu mereka tidak ingin melabelkan produknya sebagai produk yang tidak menggunakan minyak sawit lestari. Ini menunjukkan, selama ini mereka cukup bergantung pada minyak sawit yang tidak bersertifikat lestari," jelas Elfian.(msb)

Oleh Martin Sihombing

Sumber Berita : http://www.bisnis.com