Jamin Harga Kakao Tinggi

Jumat, 29 April 2011 | 14:02


Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) meminta pemberlakuan ketentuan sertifikasi lahan kakao nasional agar lebih dimaksimalkan. Pasalnya, sertifikasi yang sudah diterapkan di dunia sejak 2009 tersebut mempengaruhi harga kakao di pasar global. Aturan ini bakal diwajibkan pada 2020 nanti. Di sisi lain tahun ini produksi kakao diperkirakan lebih rendah dari 2010 lalu, sehingga ekspor kakao bakal melandai.Ketua Umum Askindo Zulhefi Sikumbang mengatakan penerapan sertifikasi tersebut dapat menjadi jaminan asal kakao yang dihasilkan. Selain itu, kakao yang sudah tersertifikasi harganya menjadi lebih tinggi dengan selisih sekitar USD 200-300 per ton. Akan tetapi, penerapan sertifikasi tersebut dinilai belum maksimal terutama terkait lembaga yang melakukan sertifikasi.


”Semestinya, sertifikasi lahan harus dilaksanakan oleh badan yang terdaftar di dalam negeri tapi banyak lembaga asing yang melaksanakan jasa sertifikasi secara liar. Mereka asal melakukan klaim atas lahan tertentu untuk mendapatkan harga yang lebih mahal,” tandasnya saat saat jumpa pers tentang pelaksanaan The 5th Indonesian International Cocoa Aconference & Dinner 2011 di Jakarta.


Dengan begitu, hanya perusahaan besar yang bisa membayar jasa sertifikasi. Sementara perusahaan kecil tidak bisa melakukan sertifikasi atas lahan yang dimiliki karena tidak mampu membayar. ”Menurut kepemilikan lahan kakao, hampir 96 persen lahan nasional termasuk lahan rakyat. Kami sudah mendesak persoalan tersebut pada Menteri Pertanian, tapi belum ada respons,” ucapnya.


Dia menyebutkan, lembaga resmi yang bisa jadi acuan dalam pelaksanaan sertifikasi di antaranya Sucofindo dan Surveyor Indonesia yang dilegalkan Badan Standar Nasional (BSN). Saat ini ada 2 lembaga sertifikasi yang juga dimanfaatkan perusahaan kakao hilir muli nasional yaitu UTZ Certified dan Rainforest Alliance. ”Harus ada monitor terhadap lembaga asing tersebut. Serta, standar sertifikasi harus sama dan diakui di luar negeri,” urainya.


Zulhefi melanjutkan, prediksi produksi kakao tahun ini turun dari posisi ideal sebesar 750 ribu ton per tahun. Diperkirakan, produksi tahun ini hanya mencapai 600 ribu ton. Dari prediksi itu, sekitar 220 ribu ton akan dikonsumsi industri dalam negeri dan 280 ribu ton diekspor. Dengan begitu ekspor tahun ini akan turun dari realisasi 2010 lalu sebesar 320 ribu ton. ”Ditambah beroperasinya pabrik hilir kakao di Batam yang memerlukan 70 ribu ton per tahun,” katanya. (res/jpnn)

[ Red/Redaksi_ILS ]
Sumber Berita : http://padangekspres.co.id/