Mendag: Ekspor Rotan Bukan Masalah

Rabu, 27 April 2011 | 15:09


Menteri Perdagangan (Mendag) Mari Elka Pangestu menegaskan permasalahan rotan saat ini bukan terkait melarang atau memberikan izin ekspor rotan. Namun yang paling terpenting adalah kepastian suplai kepada perajin rotan di dalam negeri dengan membangun terminal rotan di sentra-sentra rotan."Kalau masih ada kekurangan bahan baku, bukan masalah diekspor atau tidak diekspor tetapi bagaimana perajin kecil bisa memperoleh jumlah dan kualitas rotan yang dibutuhkan," kata Mari di kantornya, Jl Ridwan Rais, Selasa (26/4/2011)

Ia menambahkan soal apakah rotan dibolehkan atau dilarang ekspor merupakan cerita lama. Bagi Mari, pihaknya sudah membahas secara serius dengan Menteri Perindustrian MS Hidayat dan pelaku usaha rotan melalui Asosiasi Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo).

"Jadi intinya yang boleh ekspor adalah rotan yang tak digunakan di dalam negeri, kita sudah koordinasi dengan Asmindo, yang boleh mengekspor rotan harus menunjukan bukti serap di dalam negeri," tegas Mari.

Mari menyadari menghadapi persoalan rotan harus melalui solusi yang berimbang antara yang menggunakan bahan baku rotan di dalam negeri dan yang memproduksi rotan. Ia akan kembali mengundang Asmindo, pengusaha rotan dan pemerintah daerah.

"Jadi jawabannya, bagaimana kita membangun terminal rotan di tempat-tempat yang ada perajin, itu salah satu kemungkinan solusi. Kita sudah bicarakan terus menerus dengan menteri perindustrian agar ada solusi yang baik," katanya.

Seperti diketahui Peraturan Menteri Perdagangan RI No 36/M-DAG/PER/8/2009 tentang ketentuan ekspor rotan  ditetapkan pada 11 Agustus 2009 akan berakhir Oktober 2011. Aturan ini merupakan revisi dari aturan ekspor rotan sebelumnya yang tertuang dalam Permendag No 12/M-DAG/06/2005.

Permendag ini mengatur jenis rotan yang dapat diekspor dengan jenis dan jumlah tertentu meliputi:

    * Rotan  Washed and Sulphurized (W/S) dari jenis rotan Taman/Sega (Calamus caesius) dan Irit (Calamus trachycoleus) dengan diameter 4 mm sampai dengan 16 mm
    * Rotan Setengah Jadi dari jenis rotan Taman/Sega dan Irit, dan Rotan Setengah Jadi bukan dari jenis rotan Taman/Sega dan Irit dalam bentuk poles halus, kulit dan hati.

Sementara rotan yang dilarang diekspor meliputi:

    * Rotan Asalan;
    * Rotan W/S dari jenis rotan Taman/Sega dan Irit yang diameternya dibawah 4 mm dan diatas 16 mm; dan
    * Rotan W/S bukan dari jenis rotan Taman/Sega dan Irit.

Rotan Asalan adalah rotan dalam bentuk asalan, tidak dirunti, tidak dicuci, tidak diasap/dibelerang, yang termasuk dalam Pos Tarif / ex. HS 1401.20.00.00.

Sedangkan rotan Washed and Sulphurized (W/S), yang selanjutnya disebut Rotan W/S adalah rotan dalam bentuk natural yang berkulit dan telah mengalami proses pencucian dan pengasapan belerang, yang termasuk dalam Pos Tarif / ex. HS 1401.20.00.00.

Jenis dan jumlah Rotan yang dapat diekspor ditetapkan dengan memperhatikan kelestarian tanaman rotan, produksi rotan nasional dan kebutuhan bahan baku industri rotan dalam negeri.

Dalam aturan itu juga ditetapkan, jenis dan jumlah rotan yang dapat diekspor harus memenuhi ketentuan:

    * Untuk Rotan W/S dan Rotan Setengah Jadi dari jenis rotan Taman/Sega dan Irit sebanyak 35.000 (tiga puluh lima ribu) ton per tahun; dan
    * Untuk Rotan Setengah Jadi bukan dari jenis rotan Taman/Sega dan Irit ditetapkan dalam jumlah persentase tertentu dari realisasi bukti pasok oleh ETR selama periode 3 bulan sebelumnya.
    * Besarnya jumlah persentase ditetapkan oleh Direktur Jenderal setelah mendapat pertimbangan dari TME.

Seperti diketahui masalah ekspor bahan baku rotan terus menjadi polemik eksportir termasuk petani rotan dengan para perajin industri di dalam negeri. Masing-masing pihak berkilah terhadap kepentingannya masing-masing.

Pihak eksportir menganggap pelarangan ekspor rotan sangat merugikan karena penyerapan rotan di dalam negeri sangat terbatas sedangkan produksi tinggi. Sementara para perajin industri dalam negeri menuding langkah ekspor bahan baku rotan sama saja memberikan peluru ke pesaing industri rotan Indonesia seperti China dan Vietnam.
(hen/dnl)

Sumber Berita : http://www.detikfinance.com