Prospek Kekuatan Nikel dan Tembaga

Kamis, 31 Maret 2011 | 07:30


Nikel dan tembaga, sebagaimana Visi Ekonomi Indonesia 2025 oleh Kementerian Koordinator Perekonomian, merupakan dua komoditas yang bisa diandalkan.Permintaan nikel sempat turun pada 2006 dan 2008 karena krisis global. Namun, diprediksikan akan terus terjadi peningkatan sejak 2010, terutama dari China dan Taiwan. Pada 2012, harga jual nikel akan mencapai US$8 per pon, setelah mencapai titik terencahnya pada US$6,7 per pon pada 2009. RI termasuk lima besar produsen nikel, dengan produksi 190 ribu ton nikel.

Prinsi investasi industri nikel ke depannya adalah menciptakan lingkungan dan aspek sosial yang baik, terutama terkait penambangan logam ini mengurangi kualitas tanah dan mengganggu ekosistem. Kemudian, menambah nilai nikel sehingga kerugian tahunan saat ini yang mencapai US$200 juta bisa ditutup.

Untuk itu, perlu ada peningkatan energi listrik untuk pemrosesan nikel. Terutama listrik yang bisa diperbaru dengan cepat. Hal ini bisa dilakukan dengan mengembangkan energi air di Danau Matano, Maholana dan Towuti. Selain pentingnya infrastruktur jalan dan jaringan fasilitas air minum.

Sedangkan tembaga, setengah dari produksi tembaga saat ini digunakan untuk konstruksi bangunan. Strukturnya yang elastis membuat tembaga dengan mudah dibentuk. Sebab itulah industri logam ini sangat esensial untuk perekonomian modern. Apalagi, selama beberapa tahun ini konsumsi tembaga melebihi batas produksinya.

Sebanyak 40% tembaga Tanah Air diekspor. Strategi pembangunan ekonomi di Papua harus mempertimbangkan kesejahteraan warga lokal. Saat ini, satu-satunya perusahaan yang beroperasi di Papua adalah Freeport, yang jika produksinya terganggu makan akan berpengaruh ke ekonomi pulau tersebut.

Dengan target nilai tambahan pada Visi 2023, diharapkan pemasukan dari industri tembaga bisa meningkat US$250 juta dari level sekarang. Guna mencapainya, perlu ada pembangunan infrastruktur seperti pelabuhan di Timika dan bandara di Jayapura serta peningkatan kapasitasnya. Lalu pembangkit listrik tenaga surya dan air (PLTS dan PLTA) agar tidak bergantung pada BBM.


Oleh: Vina Ramitha
Sumber Berita : http://ekonomi.inilah.com/