Sebagian mesin tekstil dan alas kaki sudah usang

Kamis, 31 Maret 2011 | 07:27


Kementerian Perindustrian mengungkapkan 53% mesin dan peralatan produksi tekstil dan produk tekstil serta alas kaki di dalam negeri sudah usang, sehingga produktivitas industri itu relatif rendah. Dirjen Industri Berbasis Manufaktur Panggah Susanto mengatakan kondisi itu menunjukkan pentingnya peremajaan mesin dan alat produksi guna peningkatan efisiensi dan produktivitas industri.

"Peremajaan diharapkan mendorong daya saing industri nasional yang pada akhirnya mengamankan kebutuhan pasar dalam negeri," jelasnya hari ini.

Menurut dia, pertumbuhan konsumsi TPT per kapita nasional diproyeksikan meningkat dari 3,9 kg pada 2009 menjadi 6,5 kg pada tahun ini. “Untuk mengimbangi pertumbuhan konsumsi yang cukup tinggi itu, pemerintah mengharapkan produksi TPT dalam negeri meningkat 10,42% dari US$11,32 miliar menjadi US$12,5 miliar," kata Panggah.

Untuk mendorong peremajaan mesin industri TPT dan alas kaki, Kemenperin menganggarkan Rp177 miliar yang rencananya digunakan oleh 150 perusahaan sepanjang tahun ini.

“Sebenarnya masih banyak perusahaan yang Antre, kami hitung-hitung masih kurang Rp100 miliar," ungkapnya.

Program insentif pemerintah tersebut telah dijalankan sejak 2007 untuk industri TPT dan sejak 2009 untuk industri alas kaki. Dana yang dianggarkan Kemenperin semakin menurun, dari Rp255 miliar pada 2007 menjadi Rp177 miliar pada 2011.

Direktur Industri Tekstil dan Produk Tekstil Kemenperin Budi Irmawan menjelaskan anggaran itu disesuaikan dengan kesiapan perusahaan TPT dan alas kaki

. Sejak 2007, realisasi anggaran yang disiapkan pemerintah tidak pernah terserap 100%. "Pertama kali dianggarkan ekspetasi kami terlalu besar, padahal mereka belum siap," ujarnya.

Tahun lalu, realisasi anggaran pergantian mesin usang industri TPT adalah Rp144,37 miliar dari Rp154,15 miliar. Adapun, realisasi anggaran industri alas kaki hanya Rp18,30 miliar dari Rp24,45 miliar.

Sejak bergulir pada 2007, realisasi anggaran mencapai Rp682,03 miliar, hanya mendekati 65% dari total anggaran yang senilai Rp1,056 triliun.

Program restrukturisasi mesin dari Kemenperin memberikan penggantian 10% untuk pembelian mesin baru dari luar negeri oleh pelaku usaha. Adapun, subsidi untuk pembelian mesin produksi dalam negeri sebesar 15% dari harga barang. (hl)

Oleh Demis Rizky Gosta


Sumber Berita : http://www.bisnis.com/