Peningkatan Nilai Tambah Produk Mineral Dalam Negeri

Kamis, 03 Maret 2011 | 19:35


Pemerintah telah menerbitkan undang undang Minerba no. 4 / 2009. Banyak hal baru yang diatur dalam perundangan tersebut, salah satunya adalah kewajiban para pelaku tambang untuk memberikan nilai tambah terhadap hasil tambangnya. Pertambangan Indonesia sedang mengalami revitalisasi.  Setelah krisis ekonomi yang melanda di tahun 1998 dan beberapa krisis ekonomi yang susul-menyusul setelahnya, banyak perusahaan tambang Indonesia yang memilih untuk menghentikan eksplorasinya dan bahkan operasionalnya di Indonesia.  Berkat kondisi ekonomi yang membaik, dan kepercaan pihak luar negeri terhadap kestabilan ekonomi Indonesia, investor tambang mulai melirik Indonesia sebagai salah satu negara tujuan investasi.  Pemerintah pun tidak mau ketinggalan.  Untuk menunjang pertumbuhan yang leibh baik, telah diterbitkan  undang-undang yang pelaksanaan pertambangan mineral dan batubara Indonesia, yaitu UU Minerba no. 4 / 2009 .  Banyak hal-hal baru yang diatur dalam perundangan tersebut, salah satunya adalah kewajiban para pelaku tambang untuk memberikan nilai tambah terhadap hasil tambangnya.  Demikian juga halnya dengan aluminium, tembaga dan bahan metal lainnya.

Walaupun pertambangan di Indonesia sudah berjalan sejak di zaman penjajahan Belanda, namun sebagian besar adalah sejauh exploitasi bahan tambang tanpa pengolahan untuk memberikan nilai tambah.  Sebagai contoh, Indoneisa masih mengimport 66% dari kebutuhan besi dalam negeri sedangkan sebagian besar batuan tambang besi diekspor ke luar negeri, terutama Cina untuk diolah di sana.  Demikian pula yang terjadi terhadap aluminium, tembaga, dan bahan metal lainnya.

UU Minerba akan secara bertahap mengubah hal tersebut.  Para pemegang Izin Usaha Pertambangan akan diwajibkan untuk memberikan nilai tambah kepada hasil tambangnya dan akan secara bertahap mengurangi penjualan bahan mentah hasil tambang ke luar negeri. 

Beberapa keuntungan akan timbul dari diterapkannya kebijakan tersebut.  Keuntungan pertama adalah meningkatnya harga jual hasil tambang, karena tentunya bahan tambang olahan akan memiliki nilai yang lebih tinggi daripada bahan tambang mentah yang selama ini diperjual-belikan dengan pihak luar. 

Keuntungan kedua adalah terbukanya lapangan kerja baru yang akan menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang signifikan, mulai dari para tenaga ahli di bidang pengolahan mineral hingga tenaga kerja kasar dengan pendidikan terbatas. 

Keuntungan ketiga adalah penguasaan teknologi pengolahan mineral oleh bangsa Indonesia yang artinya pemanfaatan dan pengolahan sumber daya alam yang lebih efisien dan berkesinambungan.

Dengan mulai diolahnya sumber daya mineral di dalam negeri, akan makin banyak lagi tenaga kerja Indonesia yang terlibat dalam proses pengolahan sehingga akan meningkatkan pengalaman kerja dan pengetahuannya mereka dalam hal tersebut. Hal ini sangat penting mengingat era globablisasi akan membuka persaingan bebas dalam segala hal, termasuk pasar tenaga kerja. 

Teknologi pengolahan mineral adalah teknologi yang tidak terlalu canggih dan telah ada selama berpuluh-puluh tahun atau bahkan lebih lama lagi.  Sebagai salah satu contoh, proses pengapungan bahan tambang sudah mulai dilakukan orang sejak tahun 1960, proses peleburan batuan tambang untuk menghasilkan metal yang disebut smelting sudah ada sejak berabad-abad silam, sama seperti proses pendulangan emas yang bahkan lebih dulu dikenal. 

Pada dasarnya pengolahan mineral atau yang biasa dikenal dengan mineral processing  adalah proses pemisahan mineral berharga dari batuan tambang agar dapat diolah menjadi produk metal yang bermanfaat.  Proses ini biasanya diawali dengan meningkatkan kadar mineral yang dikehendaki agar meningkatkan efisiensi proses berikutnya.  Untuk melakukan itu, batuan tambang digiling hingga mencapai tingkat kehalusan yang diinginkan.  Pada tahap ini, diharapkan mineral berharga sudah tidak berikatan dengan mineral pengotor, yaitu bagian yang tidak memiliki nilai jual.  Selanjutnya mineral dapat dipisahkan berdasarkan karakter fisiknya, dengan melalui ayakan, pemisahana secara gravitasi, berat jenis, maupun sifat permukaannya.  Proses ini akan menghasilkan konsentrat setengah jadi yang nantinya dapat diolah lebih lanjut untuk menghasilkan material metal seperti besi baja, aluminium, kabel tembaga, emas atau perak batangan, dan sebagainya.  Proses selanjutnya dapat dibagi-bagi menjadi beberapa proses yang berbeda-beda, yaitu pyrometallurgi, hydrometallurgy maupun electrometallurgy.

Pyrometalurgi adalah proses yang memanfaatkan panas, seperti smelter maupun roaster.  Batuan oksida yang mengandung mineral metal seperti besi, tembaga, nikel dan lainnya dipanaskan dengan agen pereduksi seperti carbon dari batubara untuk bereaksi dengan oksigen dalam batuan dan terbuang menjadi carbon dioxide.  Material pengotor akan dibuang dengan mereaksikannya dengan flux dan akan terbuang sebagai slag.  Hasil akhirnya merupakan metal dalam bentuk cair yang dapat dibentuk menjadi produk akhir metal. 

Hydrometalurgi atau yang biasa disebut pelindihan melibatkan pelarutan selektif terhadap metal dari batuan tambang.  Pelarutan dilakukan menggunakan asam sulfat encer untuk menghasilkan metal sulfat yang dapat larut dalam air.  Metal dalam larutan kemudian diambil dengan menggunakan proses elektrometalurgi, yaitu proses elektrolisasi untuk mendapatkan hasil akhir berupa metal.
Pemrosesan mineral bukanlah hal yang mudah dan murah.  Bahkan, melibatkan proses yang panjang dan investasi yang sangat besar.  Untuk itu diperlukan pengujian dan pengetesan yang menyeluruh terhadap  proses yang akan digunakan.  Di sinilah diperlukannya jasa pengujian dan pengetesan metalurgi seperti yang diresmikan oleh PT. Sucofindo baru-baru ini. 

PT Sucofindo, sebuah perusahaan BUMN yang bergerak di bidang jasa analisa dan superintending, telah membangun laboratorium mineral processing yang terletak di Cibitung.  Fasilitas ini memiliki peralatan yang memadai untuk melakukan pengujian terhadap pengolahan tahap awal dari mineral processing.  Laboratorium ini menyediakan jasa pengujian sistem penggilingan batuan atau, pengapungan atau flotasi, pelindihan atau leaching, dan pemisahan secara fisik seperti pemisahan bahan magnetic, dan pemisahan secara gravitasi.  Selain itu, fasilitas ini juga memiliki kemampuan untuk menganalisa mineral batuan yang didukung oleh sample preparasi yang semi-automatik dan analisa mineral secara mikroskopik dan menggunakan pencahayaan X-ray.

Dengan adanya fasilitas ini, para pemilik izin usaha pertambangan Indonesia tidak perlu lagi mengirim contoh batuan tambanganya ke luar negeri yang memerlukan biaya yang tidak sedikit dan waktu yang lama ataupun menginvestasikan uangnya membangun fasilitas serupa untuk keperluan pengujian sendiri.  Hal ini dihapkan dapat menunjang perkembangan dunia pertambangan, khususnya pengolahan bahan tambang di Indonesia. 

Fungsi lain dari fasilitas ini antara lain dapat digunakan untuk pra rancangan pabrik pengolahan mineral karena sebenarnya peralatan yang ada di fasilitas ini adalah miniatur dari peralatan besar yang sesungguhnya. Fasilitas ini juga memungkinkan untuk menunjang penilitian-penilitian mineral komersial di kemudian harinya.  Standard penggajian karyawan yang relatif rendah di Indonesia dibandingkan dengan negara negara maju yang mempunyai komersial jasa pengujian yang sama. Hal ini merupakan suatu keuntungan lain bagi perusahaan perusahaan tambang dalam menekan ongkos jasa pengujian yang cukup mahal apabila dilakukan di luar negeri.  Selain itu, tenaga ahli baik dari luar negeri dan dalam negeri yang mempunyai standard kompetensi international dilibatkan dalam menunjang kualitas hasil uji dan analisa,. Dengan demikian perusahaan perusahaan tambang di Indonesia mendapatkan kualitas yang sama dengan- negara maju.