Tingkatkan Sektor Industri Manufaktur:
Enam Kelompok Industri Diprioritaskan

Senin, 28 Februari 2011 | 14:24


Guna meningkatkan pertumbuhan sektor industri manufaktur, Pemerintah akan memprioritaskan pengembangan enam kelompok industri.Enam kelompok industri itu adalah (1) industri padat karya, (2) industri kecil dan menengah, (3) industri barang modal, (4) industri berbasis sumber daya alam, (5) industri pertumbuhan tinggi, dan (6) industri prioritas khusus, demikian dipaparkan Ansari Bukhari, Sekjen Kemenperin di Anyer, 26/2.

Industri padat karya diprioritaskan pengembangannya karena menyerap lebih banyak tenaga kerja untuk mengurangi pengangguran. Industri tekstil dan produk tekstil, alas kaki, dan furnitur adalah beberapa sektor industri yang masuk dalam prioritas pengembangan.

Peningkatan daya saing industri padat karya dilakukan melalui program restrukturisasi permesinan untuk industri tekstil dan produk tekstil serta alas kaki, pengembangan bahan baku alternatif,  pengembangan desain dan merek, serta program P3DN untuk pengadaan barang dan jasa pemerintah dan BUMN/BUMD.

IKM dan Industri Barang Modal
Industri Kecil dan Menengah (IKM) yang diprioritaskan antara lain adalah industri kreatif, seperti industri fesyen, kerajinan dan barang seni, serta terus mendorong pengembangan industri pangan, sandang dan kerajinan melalui konsep One Village One Product (OVOP).

Dirjen IKM, Euis Saedah mengatakan Pemerintah akan menumbuh-kembangkan IKM melalui modernisasi peralatan IKM, pendidikan dan pelatihan, promosi serta fasilitasi Kredit Usaha Rakyat (KUR). Ia menargetkan kontribusi IKM dalam PDB 2014 meningkat menjadi 34% dari 32% di tahun 2009 dengan rasio IKM di pulau Jawa dan luar pulau Jawa menjadi 60:40 pada tahun 2014 dari 75:25 di tahun 2009.

Sementara itu, untuk mendorong tumbuhnya industri barang modal dalam negeri, Ansari mengatakan Pemerintah akan memberikan berbagai fasilitas dan insentif fiskal berupa tax allowance, pembebasan bea masuk, tax holiday, serta dukungan kemudahan kredit perbankan.

Industri Agro
Pemerintah juga akan mendorong tumbuhnya investasi industri hilir agro untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri. Saat ini Pemerintah sedang mengupayakan fasilitas tax holiday disamping tax allowance, ungkap Ansari.

Indonesia adalah salah satu negara produsen CPO, kakao, dan karet terbesar di dunia saat ini. Produksi CPO Indonesia pada tahun 2010 diperkirakan mencapai 19,7 juta ton dimana sekitar 50,08 % masih diekspor dalam keadaan mentah.

Indonesia juga merupakan negara produsen kakao nomor 3 di dunia dengan total produksi sekitar 0,84 juta ton dimana 66,65% diekspor berupa biji. Diperkirakan Indonesia akan menjadi penghasil biji kakao nomor 2 terbesar di dunia setelah Ghana dengan total produksi mencapai 1,0 juta ton/tahun.

Indonesia juga berpotensi menjadi produsen utama karet dan barang karet dunia karena didukung oleh produksi karet alam yang besar. Produksi karet alam pada tahun 2010 mencapai 2,59 juta ton, di mana 83,27% diekspor dalam bentuk karet mentah.

Insentif Bagi Industri Kendaraan Bermotor
Industri dalam negeri dengan tingkat pertumbuhan tinggi antara lain industri kendaraan bermotor dan elektronika. Pada tahun 2010, produksi kendaraan bermotor roda empat diperkirakan mencapai 770 ribu unit dan kendaraan bermotor roda dua mencapai 7,3 juta unit.
   
Untuk meningkatkan daya saing industri kendaraan bermotor, pemerintah akan memfasilitasi pemberian insentif fiskal, pembebasan PPnBM dan pembebasan bea masuk barang modal, bahan baku dan komponen yang dibutuhkan untuk produksi dalam negeri.

Sedangkan industri elektronika antara lain diarahkan pada industri elektronika peralatan kesehatan, radar dan alat kontrol berbasis digital. Untuk itu, akan diberikan dorongan dan insentif fiskal terhadap industri yang memproduksi peralatan tersebut.

Industri Prioritas Khusus    
Industri yang dikelompokkan menjadi prioritas khusus adalah industri gula, industri pupuk, dan industri petrokimia. Dalam pengembangan industri gula, pemerintah akan terus melaksanakan revitalisasi pada pabrik-pabrik yang sudah ada dan mendorong  pembangunan pabrik gula baru.

Pemerintah merencanakan untuk membangun 6 (enam) pabrik pupuk NPK dan merevitalisasi 6 (enam) pabrik pupuk. Selain itu, Pemerintah akan mengembangkan industri petrokimia melalui pengembangan klaster industri berbasis migas kondensat di Gresik dan Tuban (Jatim) serta Bontang (Kaltim). [LENSA SUCOFINDO / hotma m. sibuea]