Harga Batubara Melaju Terangkat Harga Minyak

Jumat, 25 Februari 2011 | 07:45


Harga batubara kembali membara. Di bursa Intercontinental Exchange, Newcastle, Australia, kontrak pengiriman batubara bulan Maret 2011, Senin (22/2), senilai US$ 128,15 per metrik ton. Itu merupakan harga tertinggi selama tiga pekan terakhir.
Kenaikan tersebut melanjutkan tren penguatan yang terjadi sejak pekan lalu. Kontrak yang sama pada Jumat (18/2) naik hingga 1,74%.

Pendorong harga batubara terbaru adalah kenaikan harga minyak mentah. "Penyebab harga batubara melonjak adalah spekulasi yang berkembang di pasar tentang peningkatan harga komoditas energi," ujar Herry Setyawan, analis Indosukses Futures.

Harga minyak mentah sendiri melejit tersulut oleh konflik di negara-negara Afrika Utara dan Semenanjung Arab yang tak kunjung reda. Ketegangan politik yang bermula dari Tunisia dan Mesir itu kini sudah menyebar hingga Bahrain dan Libya.

Situasi paling gawat terjadi di Libya. Korban jiwa yang jatuh dalam aksi anti pemerintah mencapai 250 nyawa. Pelaku pasar merisaukan pasokan minyak global bakal terganggu, mengingat Libya merupakan produsen minyak besar kedelapan di dunia.

Berdasarkan data Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), total produksi minyak Libya mencapai 5% dari keseluruhan produksi OPEC per akhir Januari lalu.

Kerisauan itu otomatis menerbangkan harga minyak. Harga minyak jenis Brent di bursa ICE, kemarin, adalah US$ 108,57 per barel. Sedang minyak jenis WTI di bursa Nymex untuk pengiriman April 2011 US$ 98,48 per barel.

Pengaruh bunga

Menurut Herry, secara fundamental harga batubara berada di tren penurunan. Alasan Herry, tingkat bunga tinggi yang ditetapkan otoritas moneter di negara pengguna batubara akan menekan volume kebutuhan. "Jadi ini hanya spekulasi terhadap masalah yang terjadi di Timur Tengah," kata dia. Herry menambahkan, permintaan batubara tahun ini diprediksi tidak setinggi tahun lalu.

Dalam jangka menengah, Herry menilai, harga batubara masih akan ditentukan oleh kelanjutan kondisi geopolitik di Timur Tengah. Dia memperkirakan, dalam kondisi seperti sekarang harga batubara dalam jangka menengah bisa bergerak antara US$ 120 hingga US$ 140 per metrik ton.

Ibrahim, General Manager Harvest International Futures memprediksi, harga batubara akan melaju hingga US$ 135 per metrik ton di akhir kuartal pertama tahun ini. "Harga akan mencapai level tertingginya dalam dua bulan ke depan," kata dia.

Pendorong harga batubara di kuartal pertama, menurut Ibrahim, adalah kebiasaan negara-negara pengguna untuk memperbesar cadangan batubara. Ini menyebabkan harga batubara tetap tinggi.

Kedua analis memperkirakan, harga batubara akan melandai jika konflik di Timur Tengah padam. Ibrahim juga mengingatkan, di kuartal kedua, investor perlu mengawasi penurunan harga batubara.

Tapi, harga bisa naik kembali jika pasar sudah bisa menerima kebijakan bunga tinggi. "Harga batubara bisa tetap tinggi meskipun konflik geopolitik di Timur Tengah sudah reda," kata Herry.

Sumber Berita : http://investasi.kontan.co.id