UE Pertimbangkan Hasil Sawit Indonesia

Jumat, 25 Februari 2011 | 07:39


UNI Eropa mulai mempertimbangkan produksi sawit Indonesia yang selama ini menganggap perkebunan sawit merusak lingkungan dan tidak sesuai standart yang ditetapkan negara Uni Eropa.Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi mengatakan Kedatangan delegasi Uni Eropa sebagai bagian kerja sama Indonesia Eropa. ''Kedatangan mereka sebagai balasan kunjungan saya beberapa bulan lalu ke Uni Eropa,'' katanya usai pertemuan dengan delegasi USA di gedung Kementan Jakarta, Selasa (22/2).

Menurutnya, selama ini default value CPO Indonesia masih dianggap belum memenuhi standar yang ditetapkan Uni Eropa. ''Emisi gas buang CPO Indonesia masih 19 persen sedangkan standar emisi dari Uni Eropa 35 persen,'' kata dia.

Hal ini, menjadi hambatan besar bagi CPO Indonesia untuk bisa diterima di pasar Internasional. Padahal, menurutnya emisi gas buang CPO Indonesia sudah lebih dari 19 persen. ''Ini menjadi challange bagi Indonesia untuk bisa mengejar standar default value dari Uni Eropa tersebut, kalau bisa mendekati 50 persen, saat ini range emisi gas buang CPO Indonesia diperkirakan mencapai 37-49 persen,'' katanya.

Ia mengatakan, setelah berkunjung ke beberapa daerah penghasil sawit, seperti Riau dan Jambi akhirnya pihak Uni Eropa dapat menerima dengan baik usulan Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO). ''Melihat penurunan kemiskinan di Riau karena perkembangan sawit, mereka tertarik untuk kerja sama membangun sustainable biofuel dari CPO,'' katanya.

Ia berharap, dengan kunjungan kenegaraan ini, delegasi Uni Eropa bisa mendapatkan pandangan yang benar mengenai sawit Indonesia. ''Semoga image buruk sawit Indonesia bisa berubah menjadi baik dengan ISPO,'' katanya.

Penulis: Tria Dianti /Dananjoyo Kusumo

Sumber Berita : http://www.jurnas.com/