Pemerintah Dorong Target Surplus Beras

Rabu, 23 Februari 2011 | 07:43


Kementerian Pertanian (Kementan) berkomitmen memaksimalkan produksi beras tahun ini agar terjadi surplus setidaknya 4,2 juta ton. Untuk merealisasikannya, Perum Bulog diminta memaksimalkan penyerapan gabah dan beras dari petani. “Kita berani menunjukkan produksi kita ada.

Tahun lalu kita punya agregat surplus 4,2 juta ton. Tahun ini saya yakin angka surplus meningkat. Siapa yang benar, Kementan AS atau kita yang tahu kondisi di lapangan,” kata Direktur Budi Daya Tanaman Serealia Kementan Dadih Permana di Jakarta, Senin (21/2).

Menurut Dadih, sejauh ini, produksi beras belum mengalami masalah, bahkan Minggu kemarin (20/2), mulai panen padi di Karawang dengan luas panen sekitar 1.000 hektare (ha).

Kementan, kata Dadih, juga tidak terpengaruh dengan prediksi Kementan AS yang menyebut Indonesia membutuhkan impor tambahan karena produksi di dalam negeri terkendala iklim. Untuk mendorong produksi, lanjut Dadih, Kementan sudah berkoordinasi dengan 31 provinsi dan 11 wilayah sentra produksi pertanian di Jawa, Sulawesi Selatan, Sumatra Selatan, Lampung, dan NTB.

Dari hasil koordinasi tersebut, Kementan mendapatkan komitmen dari daerah untuk percepatan tanam. “Saat ini panen sudah mulai. Februari luas panen 1,5 juta ha, Maret seluas 2,28 juta ha, dan April 5,9 juta ha.

Setelah itu ada 408 kabupaten di 31 provinsi yang berkomitmen melakukan percepatan tanam, dan kita siapkan bantuan benih, pupuk, dan pendampingan oleh penyuluh,” ungkapnya. Terkait musim panen, Dadih menyatakan, Kementan juga sudah berkoordinasi dengan Bulog dengan memberikan data panen harian dan mingguan di sentra produksi padi sehingga mitra Bulog bisa memaksimalkan penyerapan.

Jika Bulog bisa memaksimalkan penyerapan, imbuhnya, Kementan optimistis Indonesia tidak membutuhkan impor tahun ini. “Kita kuat-kuatan dengan proyeksi Kementan AS.

Kita berani menunjukkan produksi kita ada. Kita maksimalkan elemen untuk amankan cadangan beras nasional. Kalau soal impor, itu keputusannya ada di Menko, kita hanya memaksimalkan produksi,” paparnya.

Di sisi lain, Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kemendag Deddy Saleh memberikan sinyalemen masih adanya tambahan kuota impor beras dari 1,5 juta ton menjadi 1,7 juta ton.

Hanya saja, dikatakan Deddy, mungkin tambahan kuota impor itu tidak diperlukan seandainya Bulog mampu membeli dan menutupi stoknya. “(Kementan AS) memperkirakan kebutuhan impor kita 1,7 juta ton.

Untuk menjaga stok, angka itu nggak masalah karena kita kan diharuskan menjaga stok sampai 3,5 juta ton (sisanya pengadaan dalam negeri),” ungkapnya.

Penyerapan Gabah Mengenai target surplus beras, anggota Komisi IV Ma’mur Hasanuddin mengaku kecewa terhadap dukungan Bulog dalam menyerap gabah petani. Hingga akhir Februari ini, baru 60.000 ton beras dari target 3,5 juta ton beras petani yang diserap pada 2011.

Kinerja Bulog dalam menyerap beras petani masih jauh dari harapan. Ma’mur menambahkan produksi beras setahun, 70 persennya dihasilkan awal semester.

Hingga akhir Juni nanti, Bulog harus menyerap beras petani 2,45 juta ton. Kenyataannya, Bulog baru menyerap 60 ribu ton, atau 1,7 persen beras petani yang diserap dari amanat pemerintah.
aan/E-12

Sumber Berita : http://koran-jakarta.com/