Sosialisasi pembiayaan resi gudang masih minim

Senin, 31 Januari 2011 | 07:46


PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk menilai pengembangan pembiayaan dengan jaminan resi gudang masih terkendala akibat kurangnya sosialisasi sehingga perlu lebih banyak diperkenalkan kepada petani.PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk menilai pengembangan pembiayaan dengan jaminan resi gudang masih terkendala akibat kurangnya sosialisasi sehingga perlu lebih banyak diperkenalkan kepada petani.

Muhammad Ali, Sekretaris Perusahaan Bank Rakyat Indonesia (BRI), mengatakan petani lebih cenderung memilih kredit biasa dibandingkan dengan kredit resi gudang. Padahal, lanjutnya, pembiayaan dengan skema resi gudang memberikan manfaat yang lebih dibutuhkan oleh petani.

"Biasanya ketika panen, harga jatuh. Contohnya, ketika petani panen 10 ton, petani dapat menjual 1 ton, 9 ton disimpan di gudang dengan resi atau bukti penitipan yang dibiayai bank. Ketika harga bagus kembali, sisa simpanan dapat dikeluarkan dari gudang," katanya kepada Bisnis, pekan lalu.

BRI adalah salah satu bank penyalur pembiayaan resi gudang dengan total kredit (outstanding) sebanyak Rp8 miliar pada akhir tahun lalu. Pada 2011, BRI mengincar kenaikan total kredit resi gudang menjadi Rp13 miliar, naik dari 2010 sebesar Rp8 miliar yang disalurkan ke Sragen dan Medan.

"Jika naik dua kali lipat dari tahun lalu, dapat mencapai Rp16 miliar. Tetapi posisi kredit resi gudang selalu berubah karena setiap waktu ada kredit yang diangsur dan tidak. Kami harap posisi outstanding kredit pada tahun ini dapat menjadi Rp13 miliar," jelasnya.

Ali mengakui pembiayaan resi gudang masuk dalam jenis kredit dengan tingkat rasio kredit bermasalah minim, lebih rendah dibandingkan jenis kredit lain. Sampai sekarang tidak ada kredit resi gudang bermasalah. Petani cenderung memenuhi semua kewajibannya sehingga kolektibilitas semua lancar.

Ali menyambut baik rencana pembentukan lembaga penjamin simpanan (LPS) resi gudang. Dia menilai dengan adanya LPS maka perseroan merasa lebih aman dalam menyalurkan kredit. Pihaknya, sebagai bank penyalur kredit, merasa lebih aman. Apalagi ditambah dengan adanya subsidi bunga.

Pemerintah menetapkan tingkat bunga kredit resi gudang maksimal sebesar bunga penjaminan LPS plus 5%.  Jika bunga LPS saat ini 7% ditambah 5%, berarti maksimal bunga kredit resi gudang 12%. Petani akan menanggung bunga riil sebesar 6%. Sementara sebanyak 6% sisanya disubsidi oleh pemerintah. (esu)
Oleh Anggi Oktarinda