Kaji Keamanan Beras Impor

Senin, 31 Januari 2011 | 07:44


TERKAIT pemberitaan dugaan adanya kandungan zat arsenik dalam beras impor, pemerintah melalui Kementerian Pertanian siap melakukan kajian terhadap dugaan kandungan zat arsenik dalam beras impor terutama yang berasal dari negara Vietnam.TERKAIT pemberitaan dugaan adanya kandungan zat arsenik dalam beras impor, pemerintah melalui Kementerian Pertanian siap melakukan kajian terhadap dugaan kandungan zat arsenik dalam beras impor terutama yang berasal dari negara Vietnam.

"Begitu ada isu seperti itu, ya kita siap adakan uji laboratorium, apakah benar beras yang diimpor itu mengandung zat arsenik," kata Menteri Pertanian Suswono saat dihubungi Jurnal Nasional pada Kamis (27/1) di Jakarta.

Menurutnya, hal ini harus ada investigasi terlebih dahulu apakah ada unsur kesengajaan atau tidak karena zat arsenik ini merupakan zat berbahaya jika dikonsumsi terlalu banyak. "Ini harus ada investigasi supaya jelas benar tidaknya," katanya.

Ia melanjutkan jika memang benar ada, pemerintah bisa menyampaikan keluhan kepada pihak eksportir karena kualitas barangnya terbukti jelek dan berakibat fatal " Kita sebagai pihak yang dirugikan bisa komplain kenapa kualitas beras yang dijanjikan seperti ini," katanya.

Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Kementan Zaenal Bachrudin mengatakan belum mengetahui adanya info mengenai adanya dugaan kandungan arsenik dalam beras impor. "Saya belum tahu mengenai hal itu," katanya.

Ia mengatakan yakin kalau Bulog juga pasti sudah mengukur kadar kualitas beras impor sesuai standar kualitas keamanan sebelum mengimpor sejumlah beras tersebut. "Bulog kan impor juga melalui kajian yang disepakati kedua belah pihak," katanya.

Namun, jika memang benar ada dugaan seperti itu, pihaknya akan segera melakukan kajian kualitas beras impor langsung menunjuk badan karantina Kementan guna meneliti hal tersebut. "Jika memang benar pasti akan dikaji lebih lanjut," katanya.

Sebelumnya, Jurnal Environmental Science and Technology, melansir zat selulosa pada beras memiliki kandungan arsenik tingkat tinggi. Kekhawatiran terfokus pada beras impor asal Vietnam. Pasalnya negara tersebut adalah pemilik air dengan kontaminasi arsenik yang tinggi.

Arsenik dalam hal ini adalah karsinogen yang tidak memiliki ambang batas, ini berarti tidak ada level aman dalam kandungannya. Dalam penelitian tersebut dikatakan setiap konsentrasi arsenik yang dikonsumsi akan memicu risiko kanker.

Amerika dan Uni Eropa sendiri tidak memiliki standar untuk level arsenik dalam makanan, tetapi Amerika dan Badan Kesehatan Dunia WHO menetapkan batasan arsenik di angka 0.01 mg/liter untuk air minum. Sedangkan batasan di Inggris berada di angka 1 mg/kg dalam pangan.

Ardiansyah Michwan, ahli nutrisi dari Tohoku University, Jepang mengatakan analisis terhadap bahaya arsenik perlu dilakukan Bulog atau BP-POM terhadap beras yang diimpor dari Vietnam. "Bagaimanapun sungguh disayangkan jika pada kenyataannya Indonesia impor beras yang kemungkinan terkontaminasi arsenik, " katanya.

Ardiansyah mengatakan seperti diketahui efek logam berat bersifat karsinogenik (efeknya muncul dalam waktu lama). Ini juga, katanya yang menyebabkan isu-isu seputar cemaran logam berat tidak menjadi perhatian serius.

Akan menjadi perhatian serius bila ada yang meninggal karena mengkonsumsi makanan yang tercemar. Wahyu Utomo/ Tria Dianti