Siaran Pers
Share on Facebook

           

           

Wed, 03 October 2012 15:43:39 +0700
Sucofindo Tingkatkan Kinerja dan Layanan Laboratorium Coking Coal Pertama di Indonesia

Indonesia merupakan salah satu negara pengekspor batubara terbesar di dunia. Setiap tahunnya, angka rata-rata ekspor batubara mencapai 300 juta. Saat ini, stok batubara Indonesia diperkirakan masih cukup untuk 38 tahun lagi. Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan dengan menetapkan batubara sebagai bauran energi tertinggi (30%) menggantikan minyak bumi (20%). Untuk mendukung transaksi ekspor maupun memenuhi kebutuhan dalam negeri, diperlukan jasa laboratorium untuk mengetahui kualitas batubara yang ditransaksikan.

 

 
Analisa petrografi adalah salah satu analisa coking coal yang dapat dilakukan di Laboratorium Sucofindo Cabang Balikpapan



Berdasarkan kualitasnya, ada 2 (dua) jenis batubara, yaitu batubara termal (thermal coal) dan batubara metalurgi atau batubara kokas (coking coal).  Kualitas coking coal lebih baik dibanding thermal coal. Karena kualitasnya yang lebih baik, coking coal menghasilkan energi yang lebih tinggi dan lebih efisien. Meskipun keberadaannya lebih sedikit, harga jual coking coal lebih tinggi dibandingkan thermal coal. Kebutuhan akan coking coal terus meningkat seiring dengan meningkatnya produksi baja dan besi, baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor.

Mengantisipasi meningkatnya permintaan industri akan analisa coking coal, Sucofindo mendirikan laboratorium coking coal pertama di Indonesia pada tahun 2011. Laboratorium yang berlokasi di Balikpapan, Kalimantan Timur ini memiliki fasilitas yang lengkap, antara lain peralatan preparasi dan analisis seperti jaw crusher, RSD, hammer mill, raymond mill, big oven, grinder, vacuum impregnation, Gieseler plastometer, furnace untuk Crusible Swelling Number dan lain-lain. Sebagai satu-satunya laboratorium coking coal di Indonesia, laboratorium ini mampu melakukan berbagai analisa, seperti Petrographic  Analysis, Fluidity Analysis, dan Crusible Swelling Number

"Laboratorium ini dibangun untuk memenuhi permintaan industri batubara dalam mendapatkan hasil analisa yang akurat serta menghemat waktu dan biaya," kata Arief Safari, Direktur Utama Sucofindo. Ia menjelaskan, selama ini analisa coking coal dilakukan di laboratorium Australia dan Cina. Namun, dengan adanya laboratorium coking coal yang dimiliki Sucofindo, analisa dapat dilakukan di Indonesia. “Tidak perlu lama dan biayanya pun tidak menjadi mahal,” ujarnya menegaskan.

Kinerja laboratorium coking coal  menunjukkan hasil yang terus meningkat. Target pendapatan dan kinerja operasional, seperti penanganan sampel dan jumlah pelanggan terus bertambah. Tahun 2011, target pendapatan laboratorium coking coal telah tercapai. Sampai dengan periode semester I tahun 2012 ini pun  pendapatannya telah mencapai kurang lebih 75% dari target yang ditetapkan. Arief pun menyampaikan bahwa jumlah pelanggan pun terus bertambah sehingga Sucofindo dituntut lebih  meningkatkan fasilitas dan layanan laboratorium coking coal ini. [oth]