Kebijakan pengenaan bea keluar (BK) minyak sawit mentah (CPO) dinilai cukup ampuh menekan ekspor sawit mentah ke Malaysia. Sejak kebijakan itu diberlakukan, industri hilir sawit Malaysia khususnya untuk olein bisa anjlok hingga 50 persen. Meski menjadi negara produsen sawit, Malaysia masih mengimpor sawit dari Indonesia untuk diolah.
"Malaysia membutuhkan bahan baku dari kita. Sejak pemberlakuan BK, pasokan ke sana berkurang, utilisasi produksinya anjlok menjadi 50 persen. Ini artinya, pemberlakuan BK itu ampuh," kata Direktur Hasil Hutan dan Perkebunan Kementerian Perindustrian, Aryan Wargadalam, di acara diskusi Forwin, di Lembang, Bandung, Minggu (1/7).
Ia mengakui bahwa saat ini Malaysia lebih maju dalam hilirisasi industri berbasis CPO atau sawit mentah. Malaysia memproduksi 100 turunan produk CPO, sedangkan Indonesia hanya memproduksi sekitar 47 turunan produk CPO.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sait Indonesia (Gapki), Fadhil Hasan, justru meminta penetapan besaran BK produk hilir CPO dikaji ulang untuk disempurnakan. Pasalnya, pemberlakuan BK atas produk CPO dan turunannya dinilai tidak efektif dan menyebabkan penyelundupan. ran/E-3
Sumber http://koran-jakarta.com






